Risiko Depresi Meningkat Akibat Makanan Ultra-Olahan, Ini Faktanya !
makanan olahan.-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Penelitian menunjukkan bahwa apa yang kita konsumsi setiap hari juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental. Kebiasaan mengonsumsi jenis makanan tertentu ternyata dapat meningkatkan risiko gangguan suasana hati, termasuk depresi. Lantas, kebiasaan makan seperti apa yang dapat memicu kondisi tersebut ?
Salah satu pola makan yang paling sering disorot adalah kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan ultra-olahan. Makanan jenis ini dikenal praktis dan lezat, tetapi di balik kepraktisannya, tersembunyi berbagai dampak buruk bagi tubuh dan pikiran. Makanan cepat saji dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah dalam waktu singkat. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan perubahan suasana hati yang drastis, meningkatnya stres, rasa cemas, hingga perasaan mudah lelah dan murung.
Tak hanya itu, makanan cepat saji dan ultra-olahan umumnya miskin nutrisi penting yang dibutuhkan otak untuk bekerja secara optimal. Kandungan vitamin B, vitamin D, magnesium, serta asam lemak omega-3 yang berperan penting dalam menjaga fungsi otak dan kestabilan emosi sering kali sangat minim. Padahal, kekurangan zat gizi tersebut dapat memengaruhi produksi hormon dan neurotransmitter yang mengatur suasana hati.
Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan "kebiasaan makan apa yang bisa memicu depresi ?" mengarah pada pola konsumsi makanan cepat saji dan ultra-olahan secara berlebihan. Mengutip laporan dari New York Post, berbagai studi menyebutkan bahwa tingginya kandungan kalori, lemak jenuh, gula, dan garam tambahan dalam makanan cepat saji berkontribusi terhadap meningkatnya risiko depresi.
Selain berdampak pada kesehatan mental, konsumsi makanan tersebut juga berhubungan erat dengan berbagai masalah kesehatan fisik. Pola makan tinggi makanan ultra-olahan diketahui dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, stroke, serta diabetes tipe 2. Para ahli bahkan memperingatkan bahwa jika dikonsumsi dalam jangka panjang, pola makan ini dapat memicu penyakit ginjal, gangguan radang usus, hingga beberapa jenis kanker.
Penelitian terbaru yang dilakukan di Pakistan semakin memperkuat kaitan antara pola makan dan kesehatan mental. Studi tersebut menemukan bahwa individu yang mengonsumsi makanan ultra-olahan dalam jumlah besar memiliki risiko 20 hingga 50 persen lebih tinggi untuk mengalami depresi. Menariknya, hubungan ini tetap signifikan meskipun telah disesuaikan dengan berbagai faktor pengganggu lainnya, seperti usia, jenis kelamin, dan gaya hidup.
Untuk memperoleh kesimpulan tersebut, para peneliti meninjau sembilan studi dengan total lebih dari 79.700 peserta. Dari hasil analisis, muncul beberapa teori yang menjelaskan mengapa makanan ultra-olahan dapat berpengaruh pada kondisi mental seseorang. Salah satunya berkaitan dengan kesehatan saluran pencernaan.
Penelitian menunjukkan bahwa komposisi mikrobiota usus pada individu yang mengalami depresi berbeda secara signifikan dibandingkan dengan orang yang sehat. Bakteri baik di dalam usus memiliki peran penting dalam berkomunikasi dengan sistem saraf pusat. Ketika keseimbangan bakteri ini terganggu akibat pola makan yang buruk, sinyal ke otak pun dapat terpengaruh.
Bakteri usus diketahui menghasilkan berbagai zat kimia yang berkaitan dengan suasana hati, seperti serotonin, dopamin, dan Gamma-Aminobutyric Acid (GABA). Zat-zat ini termasuk neurotransmitter yang berperan dalam mengatur emosi, rasa bahagia, kecemasan, dan respons stres. Menurut Cleveland Clinic, neurotransmitter bertugas mengantarkan pesan dari satu sel saraf ke sel saraf lain, otot, maupun kelenjar, sehingga memungkinkan tubuh bergerak, merasakan sensasi, dan merespons rangsangan dari lingkungan.
Jika produksi atau keseimbangan neurotransmitter terganggu, maka kondisi mental pun dapat ikut terdampak. Inilah sebabnya pola makan yang buruk tidak hanya berpengaruh pada tubuh, tetapi juga pada kesehatan jiwa.
Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dan ultra-olahan secara berlebihan dapat meningkatkan risiko depresi melalui berbagai mekanisme, mulai dari lonjakan gula darah, kekurangan nutrisi penting, hingga gangguan keseimbangan bakteri usus. Oleh karena itu, menjaga pola makan seimbang dengan asupan makanan bergizi bukan hanya penting untuk kesehatan fisik, tetapi juga menjadi salah satu kunci menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Sumber: