Bahaya Narkoba dan Alkohol pada Remaja ! Ancaman Nyata bagi Masa Depan Generasi Muda
ilustrasi depresi.-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Penyalahgunaan narkoba dan alkohol merupakan salah satu persoalan paling serius yang dihadapi remaja di era modern. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, akses terhadap zat-zat adiktif ini menjadi semakin mudah. Remaja dapat terpapar melalui pergaulan teman sebaya, tayangan di media sosial, hingga lingkungan sehari-hari yang kurang memberikan batasan jelas. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mencoba alkohol atau narkoba karena rasa ingin tahu, tekanan kelompok, atau keinginan untuk diterima dan dianggap "keren" dalam lingkungan sosialnya.
Berbagai data menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat remaja berusia 13 hingga 17 tahun pernah mengonsumsi alkohol setidaknya sekali. Kebiasaan ini sering kali berawal dari acara santai seperti pesta ulang tahun, pertemuan teman, atau kegiatan sosial lainnya. Pada awalnya, konsumsi alkohol mungkin terasa menyenangkan dan dianggap sebagai bagian dari proses pendewasaan. Namun, di balik kesenangan sesaat tersebut, tersembunyi risiko besar yang dapat berdampak buruk bagi masa depan remaja.
Alkohol dapat memengaruhi kemampuan remaja dalam mengendalikan diri, menurunkan konsentrasi, serta meningkatkan risiko kecelakaan dan perilaku berbahaya. Dalam jangka panjang, konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati, gangguan fungsi otak, serta masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Dampak ini menjadi semakin serius ketika alkohol dikonsumsi bersamaan dengan narkoba.
Penyalahgunaan narkoba, baik ganja, ekstasi, maupun obat-obatan resep yang digunakan tidak sesuai anjuran medis, menambah kompleksitas permasalahan. Efek yang ditimbulkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang sulit dipulihkan. Beberapa di antaranya adalah gangguan kesuburan, psikosis, halusinasi, serta perubahan perilaku dan emosi yang drastis. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik dan mental remaja, tetapi juga mengganggu hubungan sosial, prestasi akademik, dan kepercayaan diri mereka.
Mengutip Maggie Dent, terdapat beberapa pendekatan penting yang dapat dilakukan untuk membantu remaja menghadapi masalah narkoba dan alkohol. Salah satu langkah utama adalah membangun komunikasi yang jujur dan terbuka antara orang tua atau pengasuh dengan remaja. Hubungan yang didasari rasa saling percaya membuat remaja merasa aman untuk berbagi pengalaman, kekhawatiran, maupun tekanan yang mereka hadapi.
Remaja cenderung lebih terbuka ketika mereka tidak merasa dihakimi atau disalahkan. Oleh karena itu, orang tua perlu mengembangkan kemampuan mendengarkan secara aktif, memberi empati, serta menghargai perasaan anak. Penyampaian informasi tentang bahaya narkoba dan alkohol sebaiknya dilakukan dengan tenang dan berdasarkan fakta, bukan dengan ancaman atau ketakutan berlebihan. Diskusi yang sehat akan membantu remaja memahami risiko terhadap kesehatan fisik dan mental mereka, sekaligus mendorong mereka untuk berpikir kritis dalam mengambil keputusan.
Selain komunikasi, penting juga untuk menyadarkan remaja akan dampak jangka panjang yang tidak dapat diubah. Masalah kesehatan seperti infertilitas, gangguan kecemasan, depresi, hingga psikosis dapat muncul akibat penggunaan narkoba. dr. Andrew Leech menyarankan agar remaja berani menjaga jarak dari lingkungan pertemanan yang memberikan pengaruh negatif. Mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif dan menghargai pilihan hidup mereka dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri.
Aspek kesehatan mental juga tidak boleh diabaikan. Dalam beberapa kasus, remaja memerlukan bantuan profesional, seperti konseling psikologis, penggunaan obat-obatan tertentu seperti antidepresan (SSRI), atau rujukan ke psikiater remaja. Bahkan, rawat inap di rumah sakit terkadang diperlukan sebagai langkah pemulihan. Meskipun terasa berat, proses ini dapat menjadi titik awal untuk menghentikan siklus perilaku berisiko dan membangun kembali kehidupan yang lebih sehat.
Dengan lingkungan yang mendukung dan pemahaman yang tepat, remaja memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi individu yang sehat, mandiri, dan mampu membuat keputusan yang bijak bagi masa depan mereka.
Sumber: