Air Fryer Dinilai Lebih Aman bagi Kualitas Udara Dalam Ruangan, Ini Temuan Ilmiahnya
Penggunaan air fryer -Ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Penggunaan air fryer kian meluas di dapur rumah tangga modern. Alat masak berbasis sirkulasi udara panas ini kerap dipilih karena dianggap lebih praktis dan sehat dibandingkan metode menggoreng konvensional. Menariknya, sebuah penelitian terbaru dari Universitas Birmingham, Inggris, mengungkap bahwa air fryer tidak hanya berpotensi mengurangi konsumsi minyak, tetapi juga dapat menekan pencemaran udara yang dihasilkan selama proses memasak, bahkan saat makanan yang diolah mengandung kadar lemak cukup tinggi.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ES&T Air dan dilaporkan oleh SciTechDaily. Studi tersebut menjadi salah satu penelitian awal yang secara komprehensif memetakan jenis serta campuran polutan udara yang dilepaskan selama penggunaan air fryer. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan para peneliti, air fryer kini telah menjadi peralatan dapur yang umum digunakan di banyak rumah di Inggris, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan kualitas lingkungan dalam ruangan.
BACA JUGA:Jangan Sembarangan Makan Buah Jatuh, Ini Risiko Virus Nipah Menurut Dokter Anak
BACA JUGA:Jarang Disadari, Minuman Sehari-hari Ini Mengandung Magnesium Tinggi
Popularitas air fryer mendorong para ilmuwan untuk meneliti lebih jauh dampaknya terhadap kualitas udara di dalam rumah. Selama ini, aktivitas memasak sering kali luput dari perhatian sebagai sumber polusi udara dalam ruangan, padahal proses pemanasan minyak dan bahan makanan dapat melepaskan senyawa berbahaya. Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa pada beberapa jenis makanan, air fryer menghasilkan emisi senyawa organik volatil (volatile organic compounds/VoC) dan partikel ultrahalus dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan teknik menggoreng dangkal (shallow frying) maupun menggoreng dengan minyak banyak (deep fat frying).
Salah satu hasil yang menonjol adalah saat memasak dada ayam menggunakan air fryer. Proses tersebut melepaskan VoC dalam jumlah yang jauh lebih sedikit, sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya. Namun, pada studi terbaru ini, fokus penelitian diperluas untuk menilai apakah kandungan lemak dalam bahan makanan memengaruhi jumlah dan jenis polutan yang dilepaskan ke udara selama proses memasak.
BACA JUGA:Bulog Rejang Lebong Siapkan 1.429 Ton Beras Jelang Ramadhan
BACA JUGA:Bupati Rejang Lebong Saat Berkunjung Ke Kemenristek Dikti RI Bahas SMA Unggul Garuda
VoC dan partikel ultrahalus diketahui berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi saluran pernapasan hingga risiko penyakit kronis jika terpapar dalam jangka panjang. Keduanya juga merupakan kontributor utama polusi udara dalam ruangan. Meski demikian, perhatian publik dan kebijakan masih lebih banyak tertuju pada polusi udara luar ruangan dibandingkan aktivitas domestik seperti memasak.
Untuk mengukur emisi secara akurat, para peneliti melakukan eksperimen di ruang khusus yang dirancang untuk mendeteksi perubahan kecil pada konsentrasi VoC dan partikel udara lainnya. Mereka menggunakan air fryer komersial berkapasitas 4,7 liter dan memasak berbagai jenis makanan, mulai dari makanan beku goreng, makanan segar rendah lemak, hingga makanan segar tinggi lemak. Pendekatan ini memungkinkan perbandingan dilakukan dalam kondisi yang konsisten.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa beberapa bahan makanan tetap menghasilkan emisi yang relatif tinggi meskipun dimasak menggunakan air fryer. Bawang bombai beku, daging asap, dan daging tanpa asap tercatat sebagai penyumbang emisi tertinggi dalam pengujian tersebut. Namun, perbedaan paling signifikan terlihat ketika jenis makanan berlemak tinggi yang sama dimasak dengan metode lain. Penggorengan menggunakan minyak menghasilkan kadar VoC yang 10 hingga 100 kali lebih tinggi dibandingkan air fryer.
BACA JUGA: Akhir Penantian Panjang, Kepala Bappeda Rejang Lebong Akhirnya Dilantik Definitif,
BACA JUGA: Mengapa Berjalan Mundur Baik untuk Tubuh ? Ini Fakta dan Manfaatnya !
Penelitian ini juga menyoroti pengaruh penggunaan air fryer dalam jangka panjang. Pengujian terhadap alat yang telah digunakan lebih dari 70 kali menunjukkan peningkatan emisi VoC sebesar 23 persen serta lonjakan lebih dari dua kali lipat jumlah partikel ultrahalus. Peningkatan ini diduga berasal dari penumpukan residu pada bagian air fryer yang sulit dijangkau untuk dibersihkan.
Sumber: