Bukan Cuma Faktor Usia, Gaya Hidup Ini Picu Nyeri Punggung Bawah

 Bukan Cuma Faktor Usia, Gaya Hidup Ini Picu Nyeri Punggung Bawah

Nyeri punggung bawah-ist-

CURUPEKSPRESS.COM- Keluhan nyeri pada tulang belakang bagian bawah atau low back pain kini semakin sering dialami oleh berbagai kelompok usia dan menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Gaya hidup modern yang didominasi aktivitas duduk dalam waktu lama, minimnya aktivitas fisik, serta kebiasaan postur tubuh yang kurang tepat menjadi faktor utama meningkatnya kasus gangguan tulang belakang.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi National Hospital Surabaya, dr. Larona Hydravianto, menyampaikan bahwa menjaga kesehatan tulang belakang sejatinya merupakan bentuk investasi jangka panjang bagi kualitas hidup seseorang. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Health Talk & Patient Gathering bertajuk "Panduan Praktis Menjaga Kesehatan Tulang Belakang dan Terapi HNP".

Dalam kesempatan tersebut, dr. Larona menekankan pentingnya memperbaiki postur tubuh dalam aktivitas sehari-hari, terutama saat duduk. Ia menjelaskan bahwa posisi duduk yang tidak ergonomis dapat memberikan tekanan berlebih pada tulang belakang bagian bawah dan memicu nyeri kronis. Oleh karena itu, punggung sebaiknya menempel sempurna pada sandaran kursi, khususnya pada kursi yang dilengkapi penyangga punggung bawah (lower back support).

BACA JUGA: Sumber Mikroplastik dalam Makanan Sehari-hari yang Perlu Diwaspadai

BACA JUGA: Bukan Sekadar Sarapan, Ini Rutinitas Pagi yang Menjaga Gula Darah Tetap Normal

Selain itu, posisi kaki juga tidak kalah penting. Telapak kaki harus menyentuh lantai secara penuh, sementara lutut dan pinggul membentuk sudut sekitar 90 derajat. Posisi ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan tubuh dan mengurangi tekanan pada tulang belakang. Tak kalah penting, layar komputer atau gawai sebaiknya sejajar dengan tinggi mata agar leher tidak terus-menerus menunduk atau mendongak.

"Biasakan untuk beristirahat setiap 30 menit. Berdirilah, tegakkan tubuh, lalu berjalan ringan selama dua hingga tiga menit," ujar dr. Larona saat ditemui awak media di sebuah kafe di Kota Kediri, Sabtu, 31 Januari 2026. Menurutnya, kebiasaan sederhana ini dapat membantu melancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan otot.

Tak hanya posisi duduk, dr. Larona juga mengingatkan pentingnya memperhatikan posisi tidur. Tidur dengan posisi yang tidak tepat dapat memperparah gangguan tulang belakang. Ia menyarankan penggunaan bantal yang mampu menopang leher dengan baik, pemilihan kasur yang tidak terlalu empuk maupun terlalu keras, serta menjaga posisi tubuh tetap lurus selama beristirahat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kesehatan tulang belakang tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup secara keseluruhan. Aktivitas fisik yang teratur perlu diimbangi dengan asupan nutrisi yang tepat. Konsumsi makanan yang kaya kalsium dan vitamin D sangat dianjurkan untuk menjaga kepadatan tulang. Di sisi lain, menjaga berat badan ideal juga berperan penting dalam mengurangi beban berlebih pada tulang belakang.

Ia mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan yang dapat memicu hormon tidak sehat, seperti makanan tinggi gula dan gorengan. Kebiasaan merokok pun sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu metabolisme tulang dan menghambat fungsi optimal tulang belakang.

Untuk pilihan olahraga, dr. Larona merekomendasikan aktivitas dengan risiko benturan rendah atau bahkan tanpa benturan. Berenang menjadi pilihan utama karena mampu melatih seluruh otot tubuh tanpa memberi tekanan berlebih pada tulang belakang. Selain itu, jalan kaki, pilates, yoga, serta bersepeda dengan pengaturan posisi yang benar juga dinilai aman dan bermanfaat.

BACA JUGA: Tips Tidur Sehat untuk Ibu Bekerja Selama Ramadan agar Tetap Fokus dan Berenergi

BACA JUGA: Huawei Tebar Promo Gila, HP Lipat dan Flagship Kini Lebih Terjangkau

Dokter yang pernah terlibat dalam penanganan medis darurat di lokasi reruntuhan Al-Khoziny ini juga memaparkan data global terkait gangguan tulang belakang. Ia menyebutkan bahwa pada tahun 2020, sekitar 619 juta orang di dunia mengalami nyeri punggung bawah. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi 843 juta orang pada tahun 2050, seiring dengan bertambahnya usia populasi dan meningkatnya gaya hidup sedentari.

Sumber: