Kopi Saat Sahur, Perlu atau Tidak? Simak Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh

 Kopi Saat Sahur, Perlu atau Tidak? Simak Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh

Kopi Saat Sahur, Perlu atau Tidak? Simak Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh-ist-

 

CURUPEKSPRESS.COM -Dokter dan pakar gizi masyarakat, Tan Shot Yen, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kopi sebagai andalan utama untuk melawan kantuk saat sahur. Imbauan ini terutama ditujukan bagi mereka yang harus mengemudi, bekerja di lapangan, atau memulai aktivitas sejak pagi selama menjalankan ibadah puasa. Menurutnya, kebiasaan mengandalkan kafein tanpa mempertimbangkan kebutuhan dasar tubuh justru dapat menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan.

Ia menjelaskan bahwa kopi memiliki efek diuretik, yakni merangsang peningkatan produksi urine. Efek ini menyebabkan seseorang lebih sering buang air kecil. Dalam kondisi normal, hal tersebut mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun, saat berpuasa, tubuh tidak memperoleh asupan cairan selama berjam-jam hingga waktu berbuka tiba. Jika saat sahur seseorang mengonsumsi kopi dalam jumlah cukup banyak, risiko kehilangan cairan menjadi lebih besar.

Kehilangan cairan atau dehidrasi, meskipun dalam tingkat ringan, dapat menimbulkan berbagai keluhan. Tubuh terasa lemas, kepala pusing, mulut kering, hingga kemampuan berkonsentrasi menurun adalah beberapa gejala yang kerap muncul. Bagi pekerja kantoran, kondisi ini mungkin hanya mengganggu produktivitas. Akan tetapi, bagi pengemudi atau pekerja lapangan yang membutuhkan kewaspadaan tinggi, penurunan konsentrasi dapat berujung pada risiko keselamatan. Oleh karena itu, mengelola asupan cairan selama bulan puasa menjadi hal yang sangat penting.

Lebih lanjut, Tan menilai bahwa rasa kantuk yang muncul saat berpuasa sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya kafein, melainkan kurangnya waktu tidur. Perubahan jadwal makan dan ibadah pada malam hari membuat banyak orang tidur lebih larut, sementara waktu bangun menjadi lebih awal untuk sahur. Akibatnya, durasi istirahat berkurang. Padahal, orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar enam hingga tujuh jam setiap hari agar fungsi tubuh dan otak tetap optimal.

Tidur merupakan kebutuhan biologis yang tidak dapat digantikan oleh minuman berkafein. Kafein memang dapat memberikan efek segar sementara karena merangsang sistem saraf pusat. Namun, efek tersebut bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahan, yaitu kurangnya istirahat. Bahkan, konsumsi kafein berlebihan dapat memicu jantung berdebar, gangguan lambung, serta kesulitan tidur pada malam berikutnya. Jika pola ini terus berulang, kualitas tidur akan semakin menurun dan rasa lelah pun sulit diatasi.

Sebagai solusi, Tan menyarankan agar masyarakat mengatur ulang jadwal tidur selama bulan puasa. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memajukan waktu tidur malam, sehingga kebutuhan istirahat tetap terpenuhi meskipun harus bangun lebih awal untuk sahur. Selain itu, tidur singkat pada siang hari selama 15 hingga 30 menit dapat menjadi strategi yang aman dan efektif untuk memulihkan energi. Tidur singkat ini membantu meningkatkan kewaspadaan tanpa membuat tubuh terasa lebih lelah.

Tidak kalah penting, kebutuhan cairan juga harus dipenuhi secara bertahap sejak berbuka hingga menjelang imsak. Pola minum yang teratur, misalnya dengan membagi konsumsi air putih dalam beberapa waktu, dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh. Mengurangi konsumsi kopi saat sahur dan menggantinya dengan air putih atau minuman yang lebih ramah bagi tubuh akan membantu mencegah dehidrasi. Dengan demikian, tubuh tetap bugar tanpa ketergantungan berlebihan pada kafein.

Puasa sejatinya melatih pengendalian diri, termasuk dalam mengatur pola makan, minum, dan istirahat. Menjaga kesehatan selama berpuasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga memastikan tubuh tetap berfungsi secara optimal. Mengorbankan kebutuhan dasar seperti tidur dan hidrasi demi mengusir kantuk sesaat bukanlah pilihan bijak.

Dengan manajemen istirahat yang baik dan pola hidrasi yang tepat, tubuh dapat tetap segar, fokus, dan aman dalam beraktivitas sepanjang hari. Mendengarkan kebutuhan tubuh merupakan langkah paling bijaksana untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.  

 

 

Sumber: