Hadapi Panas Ekstrem di Arab Saudi, Ini Kunci Jemaah Tetap Fit Saat Haji
Hadapi Panas Ekstrem di Arab Saudi, Ini Kunci Jemaah Tetap Fit Saat Haji-Ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Cuaca panas ekstrem yang kerap melanda Arab Saudi menjadi tantangan nyata bagi para jemaah haji setiap tahunnya. Suhu yang dapat melampaui 40 derajat Celsius berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari dehidrasi hingga kelelahan akibat panas (heat exhaustion).
Oleh karena itu, kesiapan fisik, khususnya dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, menjadi faktor penting agar ibadah di Tanah Suci dapat dijalankan secara optimal.
Dokter dan ahli gizi masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, menegaskan bahwa kebutuhan cairan tubuh harus menjadi perhatian utama selama menjalani ibadah haji. Ia menjelaskan bahwa paparan suhu tinggi mempercepat penguapan cairan tubuh melalui keringat, sehingga risiko dehidrasi meningkat signifikan apabila tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup.
Berdasarkan rekomendasi umum di bidang kesehatan, kebutuhan cairan orang dewasa berkisar antara 30 hingga 35 mililiter per kilogram berat badan per hari. Artinya, seseorang dengan berat badan 60 kilogram membutuhkan sekitar 1,8 hingga 2,1 liter cairan setiap hari. Kebutuhan ini dapat dipenuhi tidak hanya dari air minum, tetapi juga dari makanan yang mengandung air seperti buah dan sayuran.
Organisasi kesehatan dunia, WHO, juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi, terutama bagi individu yang berada di lingkungan dengan suhu tinggi dan aktivitas fisik berat.
Lebih lanjut, Dr. Tan mengingatkan bahwa rasa haus bukanlah indikator awal tubuh kekurangan cairan. Banyak orang baru minum ketika merasa haus, padahal kondisi tersebut menandakan tubuh sudah mengalami dehidrasi. Untuk mendeteksi kondisi hidrasi secara lebih akurat, warna urine dapat dijadikan acuan sederhana.
Urine yang berwarna bening atau kuning muda menunjukkan kondisi tubuh yang cukup cairan, sedangkan warna kuning pekat menandakan tubuh mulai kekurangan cairan.
Selain memperhatikan asupan air putih, jemaah juga dianjurkan untuk membatasi konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh. Kedua jenis minuman ini memiliki efek diuretik yang dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil, sehingga mempercepat kehilangan cairan tubuh. Dalam kondisi cuaca panas ekstrem, kebiasaan ini berpotensi memperburuk risiko dehidrasi.
Sementara itu, ahli gizi sekaligus akademisi kesehatan masyarakat, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, menyoroti pentingnya menjaga pola makan sehat sejak masa persiapan sebelum keberangkatan. Ia mengingatkan agar jemaah mulai mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula tambahan, seperti minuman kemasan, donat, roti manis, serta biskuit dengan krim.
Menurutnya, asupan gula berlebih dapat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes. Kondisi tersebut tentu dapat menghambat kelancaran ibadah haji yang menuntut stamina dan kebugaran tubuh yang prima.
Oleh sebab itu, pola makan sehat dengan prinsip gizi seimbang perlu diterapkan sejak dini.
Rita juga menyarankan agar jemaah mulai membiasakan diri mengonsumsi makanan alami atau real food, seperti sayuran, buah-buahan, protein tanpa lemak, serta sumber karbohidrat kompleks. Pola makan ini dinilai lebih mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara optimal serta membantu menjaga energi selama menjalani rangkaian ibadah yang padat.
Selain itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga secara rutin mengimbau jemaah haji untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk membawa botol minum pribadi, menggunakan pelindung kepala, serta menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.
Langkah-langkah sederhana ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat panas.
Sumber: