Lebih Efisien! Teknologi Makanan Siap Saji Permudah Layanan Haji 2026

Lebih Efisien! Teknologi Makanan Siap Saji Permudah Layanan Haji 2026

Teknologi pangan terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia. -Ist-

 

CURUPEKSPRESS.COM - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mengungkapkan bahwa inovasi teknologi pangan terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah haji Indonesia. Salah satu terobosan terbaru adalah hadirnya makanan siap saji yang telah dilengkapi teknologi pemanasan mandiri, sehingga tidak memerlukan api maupun listrik untuk menghangatkannya.

Inovasi ini dinilai menjadi solusi praktis dalam menjawab tantangan distribusi dan penyajian makanan di tengah padatnya rangkaian ibadah haji di Arab Saudi.

Menurut Arif, teknologi tersebut merupakan hasil riset para peneliti BRIN yang memanfaatkan reaksi kimia dari bahan seperti zeolit dan kapur. Ketika air dingin ditambahkan, terjadi reaksi eksoterm yang menghasilkan panas dan mampu menghangatkan makanan dalam waktu singkat. Metode ini tidak hanya efisien, tetapi juga aman karena telah melalui uji kelayakan dan standar keamanan pangan.

"Teknologi ini memungkinkan jemaah memperoleh makanan hangat dengan cara yang praktis, terutama di lokasi-lokasi krusial seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).

Ia menambahkan, inovasi ini menjadi bagian dari upaya modernisasi layanan haji Indonesia yang mengedepankan kenyamanan dan keamanan jemaah. Dalam kondisi lapangan yang serba terbatas, seperti sulitnya akses terhadap fasilitas memasak atau pemanas, kehadiran makanan siap saji dengan teknologi self-heating menjadi solusi yang sangat relevan.

Arif juga mengaku telah mencoba langsung makanan tersebut dan memastikan bahwa suhu serta kualitas rasanya tetap terjaga meskipun dipanaskan tanpa api.

Lebih lanjut, pengembangan teknologi pangan ini tidak terlepas dari tren global di bidang industri makanan siap saji. Sejumlah negara maju telah lebih dahulu mengadopsi teknologi serupa, terutama untuk kebutuhan militer, penanggulangan bencana, hingga aktivitas luar ruang.

Dengan mengadaptasi teknologi tersebut ke dalam konteks penyelenggaraan ibadah haji, Indonesia dinilai mampu menghadirkan inovasi yang tepat guna dan berorientasi pada kebutuhan jemaah.

Dukungan terhadap inovasi ini juga disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Ia menilai, pemanfaatan teknologi pangan berbasis riset nasional merupakan langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi distribusi serta menjaga kualitas makanan bagi jemaah. Dalam Rapat Koordinasi Terbatas terkait kesiapan penyediaan pangan haji 2026 di Jakarta, Selasa (21/4/2026), Zulkifli menegaskan bahwa makanan dengan teknologi ini diperuntukkan khusus bagi jemaah haji Indonesia dan tidak untuk diperdagangkan di Arab Saudi.

Selain itu, ia memastikan bahwa ketersediaan pangan bagi jemaah tetap dalam kondisi aman dan terkendali, meskipun situasi geopolitik global tengah mengalami dinamika. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menjamin pasokan makanan tetap terpenuhi di setiap waktu saji.

"Jemaah tidak perlu khawatir. Ketersediaan makanan dipastikan cukup, lengkap, dan aman untuk dikonsumsi selama pelaksanaan ibadah haji," katanya.

Secara terpisah, sejumlah pakar pangan menilai bahwa teknologi self-heating meal memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas di Indonesia. Selain praktis, teknologi ini juga dapat menjadi alternatif dalam situasi darurat, seperti bencana alam atau kondisi wilayah terpencil yang minim fasilitas. Namun demikian, aspek keberlanjutan lingkungan dan efisiensi biaya produksi tetap perlu menjadi perhatian dalam pengembangannya ke depan.

Dengan hadirnya inovasi ini, Indonesia menunjukkan komitmennya dalam memanfaatkan riset dan teknologi untuk meningkatkan kualitas layanan publik, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah haji. Kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu mendorong lahirnya solusi-solusi inovatif yang berdampak langsung bagi masyarakat. 

Sumber: