Seblak Kekinian dan Dampaknya bagi Tubuh, Ini Kata Ahli Kesehatan

Seblak Kekinian dan Dampaknya bagi Tubuh, Ini Kata Ahli Kesehatan

Seblak Kekinian dan Dampaknya bagi Tubuh, Ini Kata Ahli Kesehatan-Ist-

 

CURUPEKSPRESS.COM - Seblak menjadi salah satu kuliner yang sulit dilewatkan, terutama bagi pencinta makanan pedas. Perpaduan rasa gurih, kenyal, dan sensasi pedas yang menggigit membuat hidangan khas Jawa Barat ini semakin populer, khususnya di kalangan anak muda.

Variasi topping seperti kerupuk, ceker, bakso, hingga mi instan, ditambah level kepedasan yang bisa disesuaikan, menjadikan seblak sebagai pilihan makanan yang menggoda. Namun, di balik kenikmatannya, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang perlu mendapat perhatian.

Rasa pedas pada seblak umumnya berasal dari cabai yang mengandung senyawa aktif bernama capsaicin. Senyawa ini dikenal mampu memberikan sensasi panas sekaligus merangsang reseptor nyeri di dalam tubuh. Dalam jumlah tertentu, capsaicin sebenarnya memiliki manfaat, seperti membantu meningkatkan metabolisme dan berperan sebagai antioksidan.

Namun, konsumsi berlebihan justru dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan.

Menurut sejumlah pakar kesehatan, capsaicin dapat memicu iritasi pada dinding lambung, terutama bagi individu yang memiliki sensitivitas tinggi. Selain itu, senyawa ini juga dapat merangsang gerakan peristaltik usus secara berlebihan, yang pada akhirnya memicu diare atau rasa mulas.

Pada kondisi tertentu, konsumsi makanan pedas juga dapat memperparah gejala penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD).

Tidak hanya itu, konsumsi makanan pedas secara terus-menerus dalam jangka panjang berisiko menyebabkan peradangan kronis pada lambung. Gejala yang muncul bisa berupa nyeri perut berkepanjangan, sensasi terbakar di dada, hingga mual.

Dalam kasus yang lebih serius, iritasi yang terjadi secara berulang dapat memicu luka pada lapisan lambung.

Selain faktor cabai, aspek lain yang perlu diwaspadai adalah penggunaan bahan tambahan dalam seblak. Beberapa pedagang mungkin menggunakan zat perasa atau bahan kimia tertentu untuk memperkuat rasa pedas dan gurih. Zat-zat non-alami ini berpotensi lebih berbahaya bagi saluran pencernaan karena dapat memperparah iritasi dan mengganggu keseimbangan mikroorganisme di dalam usus.

Dari sudut pandang gizi, seblak juga cenderung memiliki kandungan natrium yang tinggi, terutama jika menggunakan mi instan atau bumbu kemasan. Asupan natrium berlebih dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan kesehatan lainnya jika dikonsumsi secara terus-menerus tanpa diimbangi pola makan sehat.

Meski demikian, bukan berarti seblak harus dihindari sepenuhnya. Kunci utamanya terletak pada pola konsumsi yang bijak. Membatasi tingkat kepedasan, memilih bahan yang lebih sehat, serta menghindari konsumsi berlebihan dapat membantu meminimalkan risiko.

Selain itu, penting untuk memperhatikan kondisi tubuh masing-masing, terutama bagi penderita gangguan lambung.

Para ahli juga menyarankan untuk mengimbangi konsumsi makanan pedas dengan asupan bergizi lainnya. Perbanyak konsumsi sayur dan buah yang kaya serat untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan. Serat berperan penting dalam melancarkan sistem pencernaan sekaligus membantu menetralkan efek iritasi pada lambung.

Sumber: