CURUPEKSPRESS.COM - Dalam beberapa tahun ke depan, harga ponsel diprediksi akan terus mengalami kenaikan. Bukan semata karena inflasi atau strategi pemasaran produsen, melainkan akibat dari satu faktor besar yang sedang mengguncang industri teknologi global, yaitu perkembangan kecerdasan buatan (AI) generatif. Teknologi ini, yang kini menjadi tren di berbagai sektor, ternyata turut berperan dalam menyebabkan kelangkaan pasokan memori, salah satu komponen vital dalam smartphone.
Laporan terbaru dari Hankyung menyebutkan bahwa Samsung tengah mempertimbangkan untuk menaikkan harga produknya, termasuk ponsel, karena pasokan memori yang mulai menipis. Meskipun besaran kenaikannya belum diumumkan secara resmi, sumber internal memperkirakan bahwa penyesuaian harga akan terjadi terutama pada ponsel kelas menengah dan entry-level.
Kondisi serupa juga dialami Xiaomi. Setelah meluncurkan Redmi K90 Series di Tiongkok, Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengonfirmasi bahwa harga ponsel Xiaomi meningkat akibat lonjakan harga komponen memori. Sebagai contoh, Redmi K90 Series kini dijual mulai dari 2.599 yuan, atau sekitar 100 yuan lebih mahal dibandingkan seri sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan tekanan biaya produksi yang kian tinggi di industri smartphone.
Pertanyaannya, apa hubungan antara AI generatif dan kenaikan harga memori ?
Teknologi AI generatif kini menjadi tulang punggung bagi banyak produk digital modern, mulai dari ChatGPT, Google Gemini, hingga fitur AI kamera di smartphone. Fitur-fitur ini membutuhkan daya komputasi tinggi dan kapasitas memori besar untuk memproses data.
Secara umum, AI generatif dibagi menjadi dua jenis :
1. On-device AI, yang berjalan langsung di perangkat pengguna tanpa koneksi internet.
2. Cloud-based AI, yang dijalankan di pusat data (server farm) dengan kekuatan komputasi jauh lebih besar.
Fitur AI berbasis cloud memerlukan high-bandwidth memory (HBM) dalam jumlah besar agar server dapat memproses data secara cepat dan efisien. Permintaan terhadap HBM melonjak tajam seiring dengan ekspansi layanan AI dari raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, dan OpenAI.
Masalahnya, meski HBM tidak digunakan langsung dalam smartphone, peningkatan permintaan terhadap HBM ternyata berdampak besar pada rantai pasokan chip memori global. Produsen chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix kini lebih banyak mengalokasikan sumber daya mereka untuk memproduksi HBM karena dianggap lebih menguntungkan dibandingkan DRAM, yang biasanya digunakan pada ponsel dan perangkat konsumen.
Akibatnya, kapasitas produksi DRAM menurun, dan stok di pasar menjadi semakin terbatas. Kondisi ini menciptakan efek domino, pemasok memori kekurangan stok, biaya produksi meningkat, dan pada akhirnya harga jual ponsel ikut terdorong naik.
Menurut laporan Android Authority pada Minggu (2/11/2025), situasi kelangkaan ini sudah mulai terasa di pasar global. Sementara itu, data dari Digitimes menunjukkan bahwa harga memori jenis DRAM dan NAND telah meningkat sepanjang tahun 2025, dan diprediksi akan naik sekitar 15-20% pada kuartal keempat.
Krisis memori ini tidak hanya berdampak pada industri smartphone. Para analis memperkirakan kelangkaan tersebut akan berlangsung lebih dari dua tahun, dan berpotensi memengaruhi harga perangkat elektronik lainnya seperti laptop, PC desktop, dan tablet. Semua perangkat yang bergantung pada chip DRAM atau NAND kemungkinan akan mengalami penyesuaian harga dalam waktu dekat.
Beberapa perusahaan teknologi bahkan mulai mencari alternatif, seperti optimalisasi software untuk mengurangi kebutuhan memori atau memperluas kerja sama dengan produsen chip baru di Asia Tenggara. Namun, upaya ini membutuhkan waktu, dan tidak serta merta bisa menekan kenaikan harga dalam jangka pendek.
Kemajuan AI generatif memang membawa manfaat besar bagi dunia teknologi, mulai dari pengalaman pengguna yang lebih cerdas hingga peningkatan produktivitas. Namun, di sisi lain, perkembangan pesat ini juga menimbulkan dampak ekonomi nyata pada industri perangkat keras.