CURUPEKSPRESS.COM - Memasuki bulan suci Ramadan, pertanyaan mengenai waktu yang tepat untuk berolahraga saat menjalankan ibadah puasa kerap muncul di tengah masyarakat. Sebagian orang khawatir aktivitas fisik akan membuat tubuh semakin lemas, sementara yang lain tetap ingin menjaga kebugaran agar kondisi tubuh tetap prima sepanjang bulan suci. Menanggapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Tanjung Sekayam, Yohana Rima Rian Ayuri, memberikan penjelasan edukatif mengenai waktu dan cara berolahraga yang aman selama berpuasa.
Menurut dr. Yohana, pada dasarnya olahraga saat berpuasa tetap aman dilakukan, selama memperhatikan waktu pelaksanaan, jenis aktivitas, serta intensitas latihan. Puasa memang menyebabkan perubahan pola makan dan jam biologis tubuh. Asupan cairan dan energi terbatas sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Oleh karena itu, pemilihan waktu yang tepat menjadi kunci agar olahraga tidak menimbulkan dampak negatif, seperti dehidrasi, hipoglikemia, atau kelelahan berlebihan.
Waktu pertama yang paling sering dianjurkan adalah sekitar 30 menit sebelum berbuka puasa. Pada rentang waktu ini, cadangan energi tubuh memang sedang berada pada titik rendah. Namun, keuntungan berolahraga menjelang berbuka adalah tubuh dapat segera memperoleh asupan cairan dan nutrisi ketika azan magrib berkumandang. Jika selama berolahraga muncul rasa lemas atau haus, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama karena segera diimbangi dengan berbuka. Aktivitas yang disarankan pada waktu ini ialah olahraga ringan hingga sedang, seperti berjalan santai, bersepeda dengan intensitas rendah, yoga, atau peregangan. Durasi ideal berkisar antara 20 hingga 30 menit agar tubuh tetap aktif tanpa mengalami kelelahan berlebihan.
Pilihan waktu kedua adalah setelah berbuka puasa. Setelah tubuh mendapatkan asupan makanan dan minuman yang cukup, kadar gula darah dan energi akan kembali stabil. Kondisi ini relatif lebih aman untuk melakukan aktivitas fisik dengan intensitas yang sedikit lebih tinggi dibandingkan sebelum berbuka. Namun, dr. Yohana menekankan pentingnya memberi jeda sekitar satu hingga dua jam setelah makan ringan agar proses pencernaan berlangsung optimal. Olahraga dapat dilakukan setelah salat tarawih, misalnya dengan jalan cepat, senam ringan, atau latihan kekuatan berintensitas sedang. Dengan pengaturan yang tepat, olahraga setelah berbuka tidak hanya menjaga kebugaran, tetapi juga membantu kualitas tidur menjadi lebih baik.
Adapun waktu ketiga yang dapat dipertimbangkan adalah sebelum sahur. Pada waktu ini, tubuh berada dalam kondisi istirahat setelah tidur malam. Melakukan latihan ringan seperti stretching, plank, atau latihan beban ringan dapat membantu meningkatkan metabolisme dan menjaga massa otot. Akan tetapi, intensitas harus tetap rendah agar tidak menyebabkan kelelahan sepanjang hari. Setelah berolahraga, kebutuhan cairan dan nutrisi dapat segera dipenuhi saat sahur sehingga risiko dehidrasi dapat diminimalkan.
Selain memperhatikan waktu, masyarakat juga perlu memahami pentingnya mengenali kondisi tubuh masing-masing. Setiap individu memiliki tingkat kebugaran dan riwayat kesehatan yang berbeda. Orang dengan penyakit kronis, seperti diabetes atau gangguan jantung, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum menentukan jadwal olahraga selama puasa. Tanda-tanda seperti pusing, mual, keringat dingin, nyeri dada, atau lemas berlebihan merupakan sinyal untuk segera menghentikan aktivitas.
Pola hidup sehat selama Ramadan tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga mencakup pola makan seimbang saat sahur dan berbuka, kecukupan cairan, serta istirahat yang cukup. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, vitamin, dan mineral akan membantu tubuh tetap bertenaga. Hindari makanan berlemak berlebihan dan minuman berkafein tinggi yang dapat memicu dehidrasi.
Pada akhirnya, olahraga saat berpuasa bukanlah hal yang perlu dihindari, melainkan perlu dikelola dengan bijak. Dengan memilih waktu yang tepat serta menyesuaikan intensitas latihan dengan kondisi tubuh, aktivitas fisik tetap dapat dilakukan secara aman dan bermanfaat.