CURUPEKSPRESS.DISWAY.ID - Fenomena yang muncul di kalangan Generasi Z kerap menarik perhatian publik. Salah satu tren yang belakangan ramai diperbincangkan adalah munculnya istilah "remaja jompo", yakni sebutan bagi anak muda yang sering mengeluhkan berbagai nyeri tubuh seperti pegal, sakit punggung, atau sakit kepala.
Untuk mengatasi keluhan tersebut, sebagian dari mereka memilih mengonsumsi obat pereda nyeri secara rutin. Sayangnya, kebiasaan ini sering dilakukan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Menurut penjelasan dari Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), Pringgodigdo Nugroho, penggunaan obat pereda nyeri secara sembarangan dan tanpa pengawasan dokter berpotensi membahayakan kesehatan ginjal.
Ia menyebutkan bahwa beberapa obat yang umum digunakan masyarakat, seperti ibuprofen dan piroksikam, memang efektif untuk meredakan nyeri. Namun, jika dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa kontrol medis, obat tersebut dapat memicu gangguan fungsi ginjal.
Sebagian besar obat pereda nyeri yang dikonsumsi masyarakat termasuk dalam kelompok Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS) atau Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAID).
Kelompok obat ini dikenal luas karena memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai analgesik untuk meredakan nyeri, antipiretik untuk menurunkan demam, serta antiinflamasi untuk mengurangi peradangan pada tubuh.
Obat golongan NSAID memang sangat mudah ditemukan dan bahkan dapat dibeli tanpa resep dokter. Hal inilah yang membuat banyak orang menganggapnya aman untuk digunakan kapan saja.
Padahal, penggunaan obat tanpa aturan yang jelas justru dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
Menurut informasi dari Cleveland Clinic, penggunaan NSAID dalam jangka panjang atau dalam dosis tinggi dapat menyebabkan berbagai efek samping, mulai dari gangguan ringan hingga komplikasi serius pada organ tubuh. Salah satu organ yang paling rentan terdampak adalah ginjal.
Secara ilmiah, obat NSAID bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase (COX) yang berperan dalam pembentukan prostaglandin. Prostaglandin merupakan senyawa penting yang membantu menjaga aliran darah ke ginjal tetap stabil.
Ketika produksi prostaglandin dihambat oleh NSAID, aliran darah ke ginjal dapat menurun sehingga fungsi penyaringan organ tersebut menjadi terganggu. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus, risiko terjadinya cedera ginjal akut bahkan penyakit ginjal kronis dapat meningkat.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan NSAID yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara perlahan. Hal ini terjadi karena berkurangnya aliran darah ke jaringan ginjal, sehingga proses penyaringan zat sisa metabolisme tidak berjalan optimal.
Dalam jangka panjang, kerusakan tersebut dapat berkembang menjadi penyakit ginjal kronis apabila tidak ditangani dengan baik.
Selain ginjal, konsumsi NSAID yang tidak sesuai aturan juga dapat memengaruhi berbagai organ tubuh lainnya. Salah satu efek samping yang paling sering terjadi adalah gangguan pada saluran pencernaan, seperti nyeri lambung, mual, diare, hingga risiko perdarahan pada lambung dan usus.