Tradisi atau Pemborosan? Menguak Fakta Food Waste saat Hari Raya

Kamis 19-03-2026,15:27 WIB
Reporter : Lola Anggraini
Editor : Ab Gafur

 

CURUPEKPRESS.COM - Di tengah semarak tradisi silaturahmi dan penyajian hidangan saat Idulfitri, terdapat persoalan yang kerap terabaikan, yakni meningkatnya jumlah sampah makanan atau food waste. Fenomena ini tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi cenderung berulang setiap tahun, terutama selama Ramadan hingga Lebaran.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr. Meti Ekayani, menilai kondisi tersebut mencerminkan adanya paradoks dalam pola konsumsi masyarakat.

Di satu sisi, masyarakat memiliki niat baik untuk menghormati tamu dengan menyajikan makanan dalam jumlah melimpah. Namun di sisi lain, kebiasaan tersebut justru berujung pada pemborosan. Dr. Meti menjelaskan bahwa penyebab utama persoalan ini berasal dari dua aspek, yakni budaya konsumsi yang berkembang di masyarakat serta sistem pengelolaan sampah yang belum optimal.

Dalam konteks budaya, menyediakan makanan berlimpah kerap dianggap sebagai simbol keramahan dan penghormatan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah. Akibatnya, banyak rumah tangga cenderung menyiapkan makanan melebihi kebutuhan.

Kekhawatiran dianggap tidak sopan jika hidangan kurang membuat masyarakat memilih untuk "berlebih" daripada "kurang", meskipun pada akhirnya makanan tersebut tidak habis dikonsumsi.

Kondisi ini diperparah oleh minimnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga. Banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan secara akurat jumlah anggota keluarga yang akan makan di rumah. Situasi semakin kompleks selama Ramadan, ketika kebiasaan berburu takjil atau makanan berbuka sering didorong oleh keinginan sesaat atau "lapar mata".

Berbagai jenis makanan dibeli karena terlihat menarik, tetapi tidak semuanya benar-benar dikonsumsi.

Selain itu, perubahan pola aktivitas selama Ramadan juga turut memicu peningkatan sisa makanan. Tidak jarang anggota keluarga memiliki agenda berbuka puasa di luar rumah, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah. Hal ini menyebabkan jumlah makanan yang tersisa menjadi semakin besar.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), komposisi sampah terbesar di Indonesia masih didominasi oleh sampah organik, termasuk sisa makanan, yang mencapai lebih dari 40 persen dari total sampah nasional.

Sementara itu, laporan Food Waste Index Report yang dirilis oleh United Nations Environment Programme (UNEP) menyebutkan bahwa rumah tangga menjadi penyumbang terbesar limbah makanan secara global. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan food waste tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga masalah global yang membutuhkan perhatian serius.

Dr. Meti menegaskan bahwa dampak food waste tidak berhenti pada pemborosan makanan semata. Sisa makanan yang terbuang juga berkontribusi terhadap peningkatan volume sampah yang harus dikelola.

Sayangnya, sistem pengelolaan sampah di Indonesia saat ini masih didominasi oleh pola kumpul, angkut, dan buang. Sistem ini belum memberikan insentif bagi masyarakat untuk mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya.

Berbeda dengan beberapa negara maju yang telah menerapkan skema pembayaran berdasarkan volume sampah, masyarakat di Indonesia umumnya membayar iuran sampah dengan jumlah yang sama, tanpa mempertimbangkan banyaknya sampah yang dihasilkan. Akibatnya, tidak ada dorongan kuat untuk mengurangi limbah.

Permasalahan lain yang tak kalah penting adalah rendahnya kesadaran dalam memilah sampah. Ketika sisa makanan tercampur dengan sampah anorganik seperti plastik atau kertas, potensi daur ulang menjadi hilang.

Kategori :