Ini Cara Aman Menikmati Opor dan Rendang Saat Lebaran

Senin 23-03-2026,17:19 WIB
Reporter : Lola Anggraini
Editor : Ab Gafur

 

CURUPEKSPRESS.COM - Opor ayam dan rendang hampir selalu hadir sebagai hidangan utama saat perayaan Lebaran di berbagai daerah di Indonesia. Kedua makanan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat. Namun, di balik kelezatannya, para ahli gizi mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsinya, terutama terkait kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi.

Ahli gizi dr. Eka Febriyanti mengungkapkan bahwa komponen utama yang perlu diwaspadai dari opor dan rendang adalah kadar lemak jenuh. Lemak ini umumnya berasal dari santan kental serta proses memasak yang menggunakan minyak dalam jumlah cukup banyak. Konsumsi lemak jenuh secara berlebihan diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah, yang berisiko memicu penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung dan stroke.

Meski demikian, dr. Eka menegaskan bahwa opor dan rendang tidak sepenuhnya berdampak buruk bagi kesehatan. Kedua hidangan tersebut justru mengandung berbagai zat gizi yang bermanfaat. Rempah-rempah seperti kunyit, lengkuas, jahe, dan bawang putih yang digunakan dalam proses memasak memiliki kandungan antioksidan tinggi. Zat ini berperan penting dalam menangkal radikal bebas dan menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, daging ayam maupun daging sapi sebagai bahan utama juga merupakan sumber protein hewani yang baik untuk membantu pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh.

Menurut pedoman dari World Health Organization (WHO), asupan lemak jenuh sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 10 persen dari total energi harian, bahkan dianjurkan di bawah 7 persen untuk menjaga kesehatan jantung. Hal ini sejalan dengan pernyataan dr. Eka yang menyarankan agar konsumsi opor dan rendang tetap dalam batas wajar dan tidak berlebihan.

Ia menekankan bahwa masyarakat tetap boleh menikmati hidangan khas Lebaran tersebut, asalkan diimbangi dengan pola makan yang seimbang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan makanan tinggi serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Serat memiliki kemampuan untuk mengikat lemak di dalam saluran pencernaan, sehingga membantu mengurangi penyerapan lemak jenuh ke dalam tubuh.

Selain itu, jika seseorang terlanjur mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dalam jumlah berlebih, maka perlu dilakukan penyeimbangan asupan nutrisi. dr. Eka menyarankan untuk mengonsumsi lemak sehat yang berasal dari bahan makanan seperti alpukat, ikan, dan kacang-kacangan. Lemak tak jenuh ini diketahui dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).

Tidak kalah penting, konsumsi air putih yang cukup juga perlu diperhatikan. Air membantu proses metabolisme tubuh, termasuk dalam mengolah lemak dan membuang zat sisa melalui sistem ekskresi. Dengan demikian, tubuh tetap dapat berfungsi secara optimal meskipun mengonsumsi makanan tinggi lemak.

Dalam konteks perayaan Lebaran yang identik dengan berbagai hidangan bersantan dan berlemak, kesadaran akan pola makan sehat menjadi hal yang krusial. Masyarakat diimbau untuk tidak hanya fokus pada kenikmatan sesaat, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan.

Dengan mengombinasikan makanan tinggi serat, mengonsumsi lemak sehat, serta menjaga kecukupan cairan, masyarakat dapat tetap menikmati hidangan khas Lebaran tanpa mengorbankan kesehatan. 

 

Kategori :