Di balik berbagai klaim manfaatnya, diet karnivora juga memiliki sejumlah risiko yang perlu diperhatikan :
1. Peningkatan kadar kolesterol
Konsumsi daging dalam jumlah besar dapat meningkatkan asupan lemak jenuh dan kolesterol. Lemak jenuh berpotensi meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang dapat memicu gangguan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Selain itu, daging olahan yang tinggi garam juga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
2. Gangguan pencernaan
Diet karnivora tidak menyediakan serat yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Kekurangan serat dapat menyebabkan gangguan buang air besar, seperti sembelit, serta menurunkan kesehatan saluran cerna secara keseluruhan.
3. Kekurangan nutrisi penting
Tidak mengonsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian membuat tubuh berisiko mengalami kekurangan vitamin dan mineral tertentu. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti mudah lelah, penurunan konsentrasi, dan perubahan suasana hati.
4. Risiko asam urat
Diet karnivora mendorong konsumsi makanan tinggi purin, seperti daging merah dan jeroan. Asupan purin yang berlebihan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah dan memicu kekambuhan pada penderita asam urat.
Diet karnivora merupakan pola makan ekstrem yang berfokus pada konsumsi produk hewani dan menghilangkan seluruh makanan nabati. Oleh karena itu, sebelum menerapkan diet karnivora, penting untuk mempertimbangkan keseimbangan gizi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar pola makan yang dijalani tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan tubuh.