Fakta Diet Makan Sehari Cukup Sekali

Fakta Diet Makan Sehari Cukup Sekali

Makanan yang bisa picu hormon kortisol naik.-Ist-

Dengan membatasi waktu makan, asupan energi harian cenderung menurun sehingga berat badan dapat berkurang secara bertahap. Namun, ia menekankan bahwa diet ini bukan solusi instan dan tetap harus dilakukan secara terencana.

BACA JUGA: Tak Hanya Telur Ayam, Ini Alasan Telur Puyuh Cocok untuk MPASI

BACA JUGA: Virus Nipah Kembali Terjadi, Seberapa Berbahaya bagi Manusia ?

Sebelum menerapkan OMAD, tubuh perlu melalui tahap adaptasi. Prof. Anna menyarankan agar seseorang memulai dari puasa intermiten yang lebih ringan, misalnya dengan durasi puasa 12-14 jam. Tahap ini bertujuan agar sistem pencernaan dan metabolisme tubuh dapat menyesuaikan diri secara perlahan sebelum menghadapi puasa dengan durasi yang lebih panjang.

Selain durasi puasa, kualitas makanan menjadi faktor yang sangat krusial dalam OMAD. Karena seluruh kebutuhan energi dan zat gizi harian hanya dikonsumsi dalam satu kali makan, menu yang disajikan harus padat gizi, seimbang, dan mudah dicerna.

Asupan protein berkualitas tinggi, seperti ikan, telur, daging tanpa lemak, tahu, dan tempe, penting untuk mencegah penurunan massa otot. Karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, ubi, oat, atau jagung, dibutuhkan sebagai sumber energi berkelanjutan. Lemak sehat dari alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan ikan berlemak juga berperan dalam menjaga rasa kenyang serta keseimbangan hormon.

Sayuran berserat tinggi sebaiknya dikonsumsi minimal setengah piring, disertai buah dalam jumlah yang wajar agar asupan gula tidak berlebihan. Kecukupan cairan dan elektrolit pun harus diperhatikan melalui konsumsi air putih, sup bening, atau kaldu.

Sebaliknya, makanan yang digoreng berlebihan, minuman manis, pangan ultra-proses, serta makanan terlalu pedas atau asam perlu dibatasi karena dapat memperburuk kondisi lambung.

Prof. Anna juga mengingatkan bahwa penerapan OMAD yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko hipoglikemia, gangguan pencernaan, defisiensi mikronutrien, penurunan massa otot, hingga perilaku binge eating, yaitu kecenderungan makan berlebihan dan sulit dikontrol saat waktu makan tiba.

Sebagai alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan, ia merekomendasikan pola puasa 12-14 jam, pola makan tiga kali sehari dengan satu hingga dua camilan sehat, atau puasa intermiten 16:8 yang dinilai lebih moderat dibandingkan OMAD.

BACA JUGA: Virus Nipah Kembali Terjadi, Seberapa Berbahaya bagi Manusia ?

BACA JUGA: Waspada Bahaya Listrik Saat Banjir, Ini Imbauan dan Langkah Aman dari PLN

Pada dasarnya, tidak ada satu pola diet yang cocok untuk semua orang. Diet OMAD memang dapat memberikan manfaat bagi kelompok tertentu, tetapi juga menyimpan risiko jika diterapkan tanpa persiapan dan pemahaman yang tepat.

Oleh karena itu, pemilihan pola makan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, usia, dan kebutuhan gizi masing-masing individu, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang populer.  

 

Sumber: