Rupiah Anjlok Tembus 16.676 per Dolar AS! Dampak Ancaman Tarif Trump

Rupiah Anjlok Tembus 16.676 per Dolar AS! Dampak Ancaman Tarif Trump

Rupiah Anjlok Tembus 16.676 per Dolar AS--

CURUPEKSPRESS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah, menembus angka 16.676 per dolar pada perdagangan Jumat, 28 Maret 2025. Pelemahan ini disebabkan oleh ancaman tarif yang dikeluarkan oleh Presiden AS, Donald Trump, terhadap impor kendaraan dari luar negeri. Dalam perdagangan tersebut, rupiah melemah sebesar 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan sebelumnya yang berada di 16.562 per dolar.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa sentimen risk-off dari ancaman tarif 25 persen pada mobil yang tidak diproduksi di AS menjadi pemicu utama melemahnya rupiah. Kebijakan ini dilihat sebagai bagian dari upaya Trump untuk melindungi industri otomotif domestik dan mengembalikan kekayaan ke AS, yang menurutnya selama ini telah ditipu oleh negara-negara asing.

BACA JUGA:4 Jenis Mata Uang Crypto yang Paling Populer!

BACA JUGA:Perbedaan Altcoin dan Bitcoin: Mengenal Lebih Dalam Mata Uang Kripto

 

Rupiah melemah 0,36 persen secara week to week (wtw) sepanjang pekan ini. Josua mencatat, ketidakpastian yang ditimbulkan oleh ancaman tersebut mendorong investor untuk beralih ke dolar AS sebagai aset yang lebih aman, terutama menjelang libur panjang.

Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh tren penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel. Penurunan harga ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia, yang menjadi perhatian di kalangan investor.

BACA JUGA:Diduga Peras Kades Hingga Jutaan Rupiah, Oknum Ngaku LSM Kena OTT

BACA JUGA: DANA SPESTAKULER 11.11, Menangkan Hadiahnya, Totol Hingga Miliaran Rupiah

 

Dengan tarif baru yang dijadwalkan akan berlaku mulai 2 April 2025, banyak yang mempertanyakan bagaimana kebijakan ini akan diterapkan, terutama karena banyak mobil yang dirakit di AS menggunakan suku cadang impor. Meski Trump berjanji akan melakukan pengawasan ketat, ketidakpastian ini tetap menjadi sumber kekhawatiran bagi pelaku pasar.

Kondisi ini menciptakan tekanan tambahan terhadap rupiah, yang berpotensi mengalami depresiasi lebih lanjut jika perang dagang berlanjut. Investor diharapkan untuk tetap waspada dan memantau perkembangan terkait tarif dan situasi pasar global, serta dampaknya terhadap nilai tukar rupiah ke depan.

 

Sumber: