Banyak Dikira Tidak Sehat, Benarkah Roti Termasuk Makanan Ultra-Olahan ?
Mencukupi kebutuhan serat setiap harinya akan berdampak baik pada pencernaan yang lancar dan sehat-ilustrasi/net-
CURUPEKSPRESS.COM - Roti merupakan salah satu produk pangan yang dibuat dari campuran tepung, umumnya tepung terigu, air, serta bahan pengembang seperti ragi. Adonan tersebut kemudian diuleni hingga kalis, difermentasi agar mengembang, dan selanjutnya dipanggang sampai matang. Proses ini menghasilkan Roti dengan tekstur kenyal dan berserat, yang membuatnya digemari oleh banyak orang. Sejak ribuan tahun lalu, Roti telah menjadi bagian penting dari pola makan berbagai peradaban di dunia, mulai dari Timur Tengah hingga Eropa.
Meskipun memiliki sejarah panjang sebagai makanan pokok di sejumlah negara, roti bukanlah pangan asli Indonesia. Berbeda dengan nasi yang menjadi sumber karbohidrat utama masyarakat, roti dikenal luas di Indonesia setelah masuknya pengaruh bangsa Barat, khususnya Belanda, pada masa penjajahan. Seiring waktu, roti pun semakin diterima dan kini mudah ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, baik sebagai menu sarapan, camilan, maupun pengganti nasi.
Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai status roti sebagai makanan ultra-processed food (UPF). Pasalnya, roti harus melalui serangkaian proses sebelum akhirnya dikonsumsi, terutama roti yang diproduksi secara massal dan dijual dalam kemasan. Hal ini memicu anggapan bahwa roti merupakan makanan ultra-olahan yang berpotensi berdampak negatif bagi kesehatan.
Mengutip Medical News Today, ultra-processed food adalah makanan yang mengandung bahan-bahan yang jarang digunakan dalam masakan rumahan, seperti pengemulsi, penstabil, pewarna, pemanis buatan, serta berbagai zat aditif dan bahan kimia lainnya. Zat-zat ini ditambahkan untuk meningkatkan cita rasa, tampilan, dan tekstur, sekaligus memperpanjang masa simpan produk.
Makanan ultra-olahan umumnya dibuat melalui berbagai tahapan dan teknik industri sebelum sampai ke tangan konsumen. Contoh yang paling umum adalah minuman bersoda, permen, dan nugget ayam. Menariknya, kategori ini juga mencakup produk yang sering dianggap lebih "sehat", seperti sereal sarapan, yogurt tertentu, dan roti. Produk dengan lebih dari lima bahan biasanya sudah termasuk dalam kelompok makanan ultra-olahan. Selain itu, jenis makanan ini cenderung mengandung kadar garam, gula, dan lemak jenuh yang cukup tinggi.
Walaupun terlihat segar, makanan ultra-olahan sering kali memiliki masa simpan yang panjang karena penggunaan bahan pengawet, seperti sodium benzoat, nitrat, sulfit, BHA, dan BHT. Sejumlah penelitian memang belum dapat memastikan bahwa makanan ultra-olahan secara langsung menyebabkan penyakit. Namun, banyak studi menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi makanan ultra-olahan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, obesitas, diabetes tipe 2, gangguan tidur, hingga masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Meski demikian, masih diperdebatkan apakah dampak tersebut berasal dari proses pengolahannya atau dari kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi.
Jika dikaitkan dengan roti, dapat dikatakan bahwa sebagian besar roti memang termasuk makanan ultra-olahan, terutama roti kemasan yang dijual di pasaran, seperti roti tawar dan roti siap konsumsi. Roti jenis ini biasanya diproduksi melalui proses panjang dan mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, serta perisa buatan.
Namun, menurut The Conversation, pengemulsi yang paling umum digunakan dalam roti supermarket seperti mono dan digliserida asam lemak, belum terbukti meningkatkan risiko penyakit. Bahkan, senyawa serupa sebenarnya juga dapat terbentuk secara alami dalam proses fermentasi panjang pada pembuatan roti tradisional. Pengemulsi berfungsi memperbaiki tekstur roti dan, bersama lemak padat seperti minyak sawit, membantu memperpanjang masa simpannya.
Isu kesehatan terbesar pada roti kemasan justru sering kali terletak pada kandungan garam dan pengawetnya. Kadar garam dalam roti kemasan sangat bervariasi antar merek, mulai dari sekitar satu hingga empat sendok teh per roti. Oleh karena itu, konsumen disarankan untuk membaca label dengan cermat dan memilih roti dengan kandungan garam kurang dari 0,7 gram per 100 gram. Sementara itu, kadar gula dalam roti supermarket umumnya relatif rendah, yakni sekitar 2-4 gram per 100 gram, dan berfungsi membantu proses fermentasi.
Sebagian besar roti kemasan memang tergolong makanan ultra-olahan, tetapi hal ini tidak otomatis menjadikannya berbahaya jika dikonsumsi secara bijak. Kunci utamanya adalah memperhatikan komposisi bahan, kandungan garam dan gula, serta mengonsumsinya dalam jumlah wajar. Dengan pilihan yang tepat, roti tetap dapat menjadi sumber karbohidrat yang praktis dan aman sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Sumber: