Viral dan Renyah, Ini Hal Penting yang Harus Kamu Tahu tentang Keripik Kaca

 Viral dan Renyah, Ini Hal Penting yang Harus Kamu Tahu tentang Keripik Kaca

Keripik kaca--

CURUPEKSPRESS.COM - Keripik kaca dikenal sebagai salah satu camilan populer yang banyak digemari berbagai kalangan. Bentuknya tipis, renyah, dan tampak transparan saat digoreng, membuat camilan ini terlihat ringan dan menggugah selera. Terbuat dari tepung tapioka, Keripik kaca sering dijual dengan berbagai pilihan rasa, mulai dari asin gurih hingga pedas menggigit.

Namun, di balik kelezatannya, konsumsi keripik kaca tetap perlu diperhatikan agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.

Meski sering dianggap camilan ringan, keripik kaca tidak selalu aman jika dikonsumsi berlebihan atau tanpa memperhatikan kualitasnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa sebenarnya keripik kaca, kandungan di dalamnya, serta potensi dampaknya bagi tubuh.

BACA JUGA:Tak Selalu Aman, Ini Efek Samping Nanas bagi Kesehatan

BACA JUGA: RedMagic 11 Pro Hadir di Indonesia, Siap Temani Gamer dengan Performa Stabil Tanpa Panas

Keripik kaca bukanlah produk yang terbuat dari bahan kaca. Nama tersebut muncul karena tampilannya yang bening dan tipis setelah digoreng. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka atau pati singkong yang diolah dengan air hingga membentuk adonan cair, kemudian dikeringkan menjadi lembaran tipis dan digoreng dalam minyak panas hingga mengembang dan renyah.

Teksturnya yang ringan dan rasanya yang gurih membuat keripik kaca sering dijadikan teman ngemil. Bahkan, camilan ini kerap viral di media sosial karena sensasi kriuknya yang unik. Meski begitu, kandungan gizinya relatif terbatas dan tidak bisa dijadikan sumber nutrisi utama.

Walaupun tampak ringan, keripik kaca menyimpan beberapa risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

• Tinggi kalori dan lemak

Proses penggorengan menjadi faktor utama meningkatnya kandungan kalori dan lemak pada keripik kaca. Saat digoreng, camilan ini menyerap minyak dalam jumlah cukup besar. Akibatnya, asupan kalori dan lemak jenuh pun meningkat.

Konsumsi makanan tinggi lemak dan kalori secara terus-menerus dapat memicu kenaikan berat badan, obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit jantung. Lemak jenuh juga berkontribusi terhadap meningkatnya kadar kolesterol LDL atau kolesterol "jahat" dalam darah.

BACA JUGA: Anak Susah Makan karena Kebanyakan Susu ? Ini Penjelasan Ahli

BACA JUGA:Toyota bZ3 Smart Home Edition Resmi Meluncur, Ini Performa, Fitur, dan Harganya

• Risiko gangguan pencernaan

Sumber: