Tak Selalu Picu Penyakit, Begini Dampak Daging Kambing bagi Tubuh
Daging kambing-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Daging kambing dan domba kerap mendapat stigma negatif di tengah masyarakat, khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat hipertensi dan kolesterol tinggi. Banyak orang menganggap kedua jenis daging ini sebagai pemicu utama meningkatnya tekanan darah dan kadar kolesterol dalam tubuh. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Di balik reputasinya yang kurang baik, Daging kambing sebenarnya menyimpan kandungan gizi yang cukup beragam dan bermanfaat apabila dikonsumsi dengan bijak.
Daging kambing merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, serta menjaga fungsi otot. Selain itu, daging ini mengandung zat besi, vitamin B12, seng, dan berbagai asam amino esensial yang berperan penting dalam proses metabolisme. Mengutip Very Well, konsumsi daging kambing dalam jumlah wajar, yakni sekitar tiga porsi per minggu, masih tergolong aman dan dapat mendukung pola makan seimbang. Masalah kesehatan justru lebih sering muncul ketika konsumsi dilakukan secara berlebihan atau terlalu sering tanpa memperhatikan komposisi makanan lainnya.
• Daging Kambing dan Kadar Kolesterol
Daging kambing dan domba termasuk dalam kelompok daging merah yang diketahui memiliki pengaruh terhadap kadar kolesterol darah. Pengaruh ini tidak bersifat tunggal, melainkan bergantung pada jumlah konsumsi, jenis potongan daging, serta cara pengolahannya.
Penelitian medis menunjukkan bahwa konsumsi daging merah dalam jumlah wajar umumnya tidak menimbulkan lonjakan kolesterol secara signifikan. Namun, pola makan tinggi daging, terutama yang kaya lemak jenuh, dapat memengaruhi cara tubuh memetabolisme lemak. Dalam kondisi tersebut, risiko peningkatan kolesterol LDL atau kolesterol jahat menjadi lebih besar.
BACA JUGA: Honda Brio Satya S CVT Resmi Meluncur, Ini Daftar Harga Lengkap Mobil LCGC Januari 2026
BACA JUGA: Kenapa Ojol Butuh HP Khusus ? Ternyata Ini Alasan dan Spesifikasi yang Dibutuhkan
Lemak jenuh merupakan salah satu komponen utama yang perlu diwaspadai dalam daging kambing. Kandungan lemak jenuh akan lebih tinggi apabila bagian lemak tidak dipangkas sebelum diolah. Lemak jenis ini bersifat padat pada suhu ruang dan diketahui berkontribusi terhadap peningkatan kadar LDL dalam darah. Oleh karena itu, memilih potongan daging yang lebih ramping menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mengurangi risiko kesehatan.
Di sisi lain, daging kambing juga mengandung lemak tak jenuh tunggal (MUFA) dan lemak tak jenuh ganda omega-3 (PUFA). Kedua jenis lemak ini termasuk lemak sehat yang berperan dalam menjaga keseimbangan kolesterol dan mendukung kesehatan jantung. Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi daging domba yang berasal dari hewan dengan pakan rumput dapat memberikan profil lemak yang lebih baik, meskipun tetap berpotensi memengaruhi kadar kolesterol jika dikonsumsi berlebihan.
Selain jenis dan jumlah daging, metode memasak juga memiliki peranan penting. Menggoreng daging cenderung meningkatkan kandungan lemak jenuh dan berpotensi menambahkan lemak trans, yang berdampak buruk bagi kolesterol. Sebaliknya, metode seperti memanggang, merebus, mengukus, atau membakar tanpa minyak berlebih dinilai lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi.
• Pengaruh Daging Kambing terhadap Tekanan Darah
Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung dan stroke. Konsumsi daging kambing dapat memengaruhi tekanan darah secara tidak langsung melalui kandungan lemak jenuhnya.
Lemak jenuh yang dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol darah. Dalam jangka panjang, kolesterol tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak di dinding pembuluh darah, suatu kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis. Penyempitan pembuluh darah ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah, sehingga tekanan darah pun meningkat.
Namun, perlu ditegaskan bahwa daging kambing tidak serta-merta menyebabkan hipertensi. Risiko tersebut baru meningkat apabila konsumsi dilakukan secara berlebihan, disertai pola makan tidak seimbang, minim serat, serta gaya hidup kurang aktif. Dengan pengaturan porsi yang tepat dan pengolahan yang sehat, dampak negatif terhadap tekanan darah dapat diminimalkan.
Sumber: