Mengapa Cokelat Terasa Menenangkan Saat Kita Sedang Stres ?

 Mengapa Cokelat Terasa Menenangkan Saat Kita Sedang Stres ?

Mengapa Cokelat Terasa Menenangkan Saat Kita Sedang Stres ?--

CURUPEKSPRESS.COM - Bagi banyak orang, cokelat identik dengan kebahagiaan. Makanan ini kerap hadir dalam berbagai momen menyenangkan, seperti perayaan, hadiah, atau sekadar camilan untuk memperbaiki suasana hati. Rasa manis dan teksturnya yang lembut membuat cokelat mudah digemari oleh berbagai kalangan. Namun, menariknya, cokelat tidak hanya dikonsumsi saat senang. Dalam kondisi tertekan, cemas, atau lelah secara emosional, cokelat justru sering menjadi makanan yang paling dicari.

Fenomena mengidam cokelat saat stres bukanlah kebetulan semata. Secara biologis, tubuh manusia memiliki mekanisme bertahan hidup yang dikenal sebagai sistem fight or flight. Sistem ini akan aktif ketika seseorang menghadapi tekanan, baik fisik maupun emosional. Saat mekanisme ini bekerja, tubuh melepaskan hormon kortisol, yaitu hormon yang berperan penting dalam respons stres. Peningkatan kadar kortisol membantu tubuh bersiap menghadapi ancaman, tetapi di sisi lain juga berdampak pada pengelolaan energi.

Menurut para ahli, saat kortisol dilepaskan, tubuh cenderung mengalihkan energi dari fungsi tertentu, seperti sistem kekebalan, menuju sistem yang mendukung kelangsungan hidup. Kondisi ini memicu kebutuhan akan sumber energi cepat, yang sering kali diwujudkan dalam bentuk keinginan mengonsumsi makanan manis, termasuk cokelat. Makanan manis dianggap mampu memberikan tambahan energi secara instan, sehingga otak secara otomatis "mengarah" pada pilihan tersebut.

BACA JUGA: Honda Brio Satya S CVT Resmi Meluncur, Ini Daftar Harga Lengkap Mobil LCGC Januari 2026

BACA JUGA: Sakit Kepala Saat Haid, Normal atau Berbahaya ? Ini Penjelasannya

Cokelat juga berkaitan erat dengan kadar gula darah. Ketika dikonsumsi, kandungan gula dalam cokelat dapat meningkatkan kadar glukosa dalam darah, sehingga tubuh merasa lebih bertenaga. Namun, efek ini bersifat sementara. Lonjakan gula darah yang terjadi dengan cepat sering diikuti oleh penurunan yang sama cepatnya. Saat kadar gula darah menurun drastis, tubuh kembali merespons dengan sinyal stres, yang akhirnya memicu rasa lapar dan keinginan untuk kembali mengonsumsi makanan manis. Siklus inilah yang membuat seseorang sulit menghentikan kebiasaan mengemil cokelat saat stres.

Selain pengaruh fisiologis, cokelat juga memiliki efek langsung pada otak. Kandungan phenylethylamine (PEA) di dalam cokelat diketahui dapat menimbulkan perasaan senang dan meningkatkan kepercayaan diri. Senyawa ini bekerja dengan cara yang mirip dengan stimulan ringan. Tidak hanya itu, cokelat mengandung triptofan, yaitu asam amino yang diolah tubuh menjadi serotonin. Serotonin dikenal sebagai hormon yang berperan dalam mengatur suasana hati, rasa bahagia, dan ketenangan emosional. Tak heran jika cokelat sering dianggap sebagai "penyelamat" saat perasaan sedang tidak stabil.

Kondisi emosional lain seperti marah juga dapat memicu keinginan terhadap cokelat. Istilah hangry, gabungan dari kata lapar dan marah menggambarkan keadaan ketika seseorang menjadi lebih mudah tersulut emosi akibat kekurangan asupan energi. Ketika otak kekurangan glukosa, kemampuan mengendalikan diri menurun, sementara hormon stres kembali dilepaskan. Akibatnya, emosi negatif semakin sulit dikendalikan dan keinginan terhadap makanan tinggi gula pun meningkat.

BACA JUGA: Minuman Bersoda untuk Berbuka Puasa, Ini Fakta dan Risikonya

BACA JUGA: Yamaha Buka 2026 dengan Penyegaran Lexi LX 155, Apa Saja yang Baru ?

Cokelat juga sering dikategorikan sebagai comfort food, yaitu makanan yang memberikan rasa nyaman secara emosional. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam situasi penuh tekanan, manusia cenderung memilih makanan tinggi lemak dan gula karena mampu memberikan efek menenangkan sementara. Kombinasi rasa, aroma, dan kandungan kimia dalam cokelat menciptakan sensasi relaksasi yang membuat perasaan menjadi lebih baik, meskipun hanya sesaat.

Meski demikian, konsumsi cokelat tetap perlu diperhatikan. Para ahli menyarankan untuk memilih cokelat dengan kandungan kakao tinggi, minimal 70 persen, karena mengandung lebih banyak antioksidan dan lebih rendah gula dibandingkan cokelat susu atau cokelat putih. Selain itu, menjaga pola makan seimbang dan mengelola stres dengan cara yang sehat tetap menjadi kunci utama.

Mengidam cokelat saat stres merupakan hasil dari kombinasi respons biologis, fluktuasi gula darah, serta pengaruh zat kimia cokelat terhadap otak. Cokelat memang dapat memberikan energi dan rasa nyaman sementara, namun konsumsi berlebihan justru berpotensi memperpanjang siklus stres. Oleh karena itu, memahami alasan di balik keinginan ini dapat membantu seseorang lebih bijak dalam mengelola emosi, memilih makanan, dan menjaga kesehatan secara menyeluruh.  

 

Sumber: