Sakit Kepala Saat Haid, Normal atau Berbahaya ? Ini Penjelasannya
Sakit Kepala Saat Haid, Normal atau Berbahaya ? Ini Penjelasannya--
CURUPEKSPRESS.COM - Menjelang masa menstruasi, banyak perempuan mengalami berbagai perubahan fisik dan emosional. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah pusing atau sakit kepala. Pada sebagian perempuan, keluhan ini tidak hanya muncul sesaat, tetapi dapat berlangsung selama beberapa hari, baik sebelum maupun saat menstruasi. sakit kepala yang muncul pada fase ini umumnya bukan sakit kepala biasa, melainkan migrain, yaitu gangguan neurologis yang memiliki karakteristik dan tingkat nyeri lebih berat.
Migrain berbeda dari sakit kepala tegang yang umum dialami banyak orang. Gejala migrain biasanya berupa nyeri berdenyut yang terasa pada satu sisi kepala. Selain itu, migrain kerap disertai mual, muntah, serta sensitivitas tinggi terhadap cahaya dan suara. Kondisi ini dapat membuat penderitanya merasa sangat tidak nyaman hingga sulit menjalani aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan informasi dari laman Healthline, perempuan, khususnya yang berada pada rentang usia 20 hingga 50 tahun, memiliki risiko tiga sampai empat kali lebih besar mengalami migrain dibandingkan laki-laki. Bahkan, serangan migrain pada perempuan cenderung berlangsung lebih lama, lebih sering kambuh, dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang.
BACA JUGA: Honda Brio Satya S CVT Resmi Meluncur, Ini Daftar Harga Lengkap Mobil LCGC Januari 2026
BACA JUGA: Minuman Bersoda untuk Berbuka Puasa, Ini Fakta dan Risikonya
Salah satu faktor utama penyebab migrain menjelang haid adalah perubahan kadar hormon dalam tubuh, terutama hormon estrogen dan progesteron. Estrogen memiliki peran penting dalam sistem reproduksi perempuan, mengatur siklus menstruasi, serta menjaga kesehatan tulang dan jantung. Menjelang menstruasi, kadar estrogen mengalami penurunan signifikan dan berada pada titik terendah sepanjang siklus haid. Penurunan hormon ini diyakini sebagai pemicu utama migrain pramenstruasi.
Tidak hanya itu, perubahan hormon estrogen juga berdampak pada keseimbangan zat kimia di otak, salah satunya serotonin. Serotonin berperan dalam mengatur rasa nyeri, suasana hati, dan kualitas tidur. Ketika kadar serotonin menurun akibat fluktuasi hormon, perempuan dapat mengalami perubahan emosi, seperti mudah murung atau tersinggung, sekaligus munculnya nyeri kepala. Penurunan alami estrogen yang terjadi sebelum menstruasi inilah yang menurut Healthline dapat memicu serangan migrain pada perempuan.
Diperkirakan sekitar 60 persen perempuan mengalami migrain sebelum, selama, atau setelah menstruasi. Migrain ini sering kali muncul bersamaan dengan gejala sindrom pramenstruasi (PMS) lainnya, seperti kelelahan, sulit tidur, perut kembung, serta perubahan suasana hati. Kombinasi berbagai keluhan tersebut dapat membuat siklus menstruasi terasa semakin berat. Tidak jarang, aktivitas harian seperti bekerja, belajar, atau mengurus rumah tangga menjadi terganggu selama beberapa hari.
BACA JUGA: Nasi vs Roti Putih untuk Sarapan, Mana yang Lebih Disarankan?
BACA JUGA: Yamaha Buka 2026 dengan Penyegaran Lexi LX 155, Apa Saja yang Baru ?
Meskipun perubahan hormon menjelang haid merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari, bukan berarti migrain pramenstruasi tidak dapat dikendalikan. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi frekuensi dan intensitas nyeri kepala. Menjaga pola makan yang teratur sebelum haid menjadi salah satu upaya penting. Konsumsi makanan bergizi seimbang, perbanyak asupan sayur dan buah, serta batasi makanan tinggi garam dan gula. Camilan sehat, seperti buah segar atau kacang-kacangan, dapat membantu menjaga kestabilan energi tubuh.
Selain itu, kualitas tidur juga perlu diperhatikan. Tidur yang cukup dan teratur, terutama menjelang dan selama menstruasi, dapat membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan hormon. Pengelolaan stres pun tidak kalah penting. Stres yang tidak terkendali dapat memperburuk migrain. Oleh karena itu, lakukan aktivitas yang dapat membantu relaksasi, seperti olahraga ringan, meditasi, yoga, atau latihan pernapasan.
Apabila migrain sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, penggunaan obat pereda nyeri yang dijual bebas dapat menjadi solusi sementara. Parasetamol dapat membantu meredakan nyeri ringan hingga sedang, sedangkan propyphenazone dapat digunakan untuk mengurangi nyeri berdenyut yang khas pada migrain. Namun, konsumsi obat sebaiknya tetap sesuai aturan dan tidak berlebihan.
BACA JUGA: Sering Ngopi Takeaway ? Waspadai Risiko Mikroplastik dari Gelas Sekali Pakai
Sumber: