Sering Dianggap Penolong, Ternyata Ini Efek Alkohol dan Kafein pada Migrain
Sering Dianggap Penolong, Ternyata Ini Efek Alkohol dan Kafein pada Migrain-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Migrain sering kali disalahartikan sebagai sakit kepala biasa. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks karena melibatkan gangguan pada sistem saraf pusat. Migrain terjadi akibat aktivitas otak yang tidak normal, yang memengaruhi saraf, pembuluh darah, serta keseimbangan zat kimia di dalam otak. Tidak mengherankan jika penderitanya kerap mengalami gejala tambahan, seperti mual, muntah, sensitivitas berlebihan terhadap cahaya dan suara, hingga gangguan penglihatan yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sayangnya, masih banyak orang yang tanpa sadar justru melakukan kebiasaan yang dapat memperburuk migrain. Salah satunya adalah mencampur konsumsi alkohol dan kafein. Sebagian orang meyakini bahwa kopi mampu meredakan sakit kepala, sementara alkohol dianggap dapat membuat tubuh lebih rileks. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar, terutama bagi mereka yang sedang mengalami migrain.
Mengutip Parade, ahli saraf sekaligus spesialis sakit kepala, dr. Nada Hindiyeh, MD, menjelaskan bahwa migrain sangat sensitif terhadap perubahan kimia dalam tubuh. Otak penderita migrain bereaksi lebih kuat terhadap rangsangan tertentu, termasuk zat yang terkandung dalam makanan dan minuman. Alkohol dan kafein sama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap sistem saraf dan pembuluh darah otak. Ketika dikonsumsi bersamaan, efeknya tidak saling menetralkan, melainkan justru dapat memicu serangan migrain yang lebih berat.
BACA JUGA: Honda Brio Satya S CVT Resmi Meluncur, Ini Daftar Harga Lengkap Mobil LCGC Januari 2026
BACA JUGA: Sakit Kepala Saat Haid, Normal atau Berbahaya ? Ini Penjelasannya
Pendapat tersebut sejalan dengan dr. Fred Cohen, MD, yang menegaskan bahwa alkohol dan kafein termasuk dua pemicu migrain yang paling umum. Jika dikombinasikan, dampaknya bisa saling memperkuat dan meningkatkan intensitas nyeri. Hal ini terjadi karena otak penderita migrain memiliki ambang toleransi yang lebih rendah terhadap perubahan internal tubuh.
Menurut Hindiyeh, pada saat migrain berlangsung, perubahan kecil saja seperti penurunan kadar cairan tubuh, fluktuasi gula darah, atau masuknya zat stimulan, dapat langsung memicu rasa nyeri. Zat yang mungkin tidak menimbulkan masalah bagi orang lain, bisa berdampak besar pada penderita migrain. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam memilih asupan menjadi sangat penting.
Alkohol diketahui bersifat diuretik, yakni mempercepat pengeluaran cairan dari tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, yang merupakan salah satu pemicu migrain paling sering dilaporkan. Selain itu, alkohol dapat melebarkan pembuluh darah di otak. Pelebaran ini berkaitan erat dengan munculnya rasa nyeri berdenyut khas migrain. Cohen juga menjelaskan bahwa alkohol memicu peradangan ringan dalam tubuh. Pada penderita migrain, peradangan ini dapat memperkuat respons nyeri dan memperpanjang durasi serangan. Tidak heran jika banyak penderita migrain mengeluhkan sakit kepala yang semakin parah meskipun hanya mengonsumsi alkohol dalam jumlah kecil.
BACA JUGA: Minuman Bersoda untuk Berbuka Puasa, Ini Fakta dan Risikonya
BACA JUGA: Nasi vs Roti Putih untuk Sarapan, Mana yang Lebih Disarankan?
Di sisi lain, kafein memiliki dua sisi yang berlawanan. Dalam dosis rendah dan terkontrol, kafein dapat membantu meredakan migrain karena kemampuannya menyempitkan pembuluh darah. Inilah alasan kafein kerap ditemukan dalam obat pereda sakit kepala. Namun, jika dikonsumsi berlebihan atau saat tubuh sedang sangat sensitif, kafein justru dapat menjadi pemicu.
Hindiyeh mengingatkan bahwa kafein bekerja langsung pada sistem saraf pusat. Saat otak berada dalam kondisi migrain, efek stimulan kafein dapat memperparah gejala seperti gelisah, jantung berdebar, dan sulit tidur. Jika kafein dikombinasikan dengan alkohol, efek negatifnya bisa meningkat. Alkohol menekan sistem saraf, sementara kafein merangsangnya. Kombinasi sinyal yang saling bertentangan ini dapat membuat tubuh kesulitan mengatur respons saraf.
Cohen menambahkan, kondisi tersebut dapat menyebabkan nyeri kepala semakin intens, disertai mual, pusing berat, hingga gangguan konsentrasi. Selain itu, kafein dapat menyamarkan rasa kantuk akibat alkohol, sehingga seseorang cenderung mengonsumsi alkohol lebih banyak tanpa disadari. Akibatnya, risiko dehidrasi meningkat dan migrain pun berpotensi semakin parah setelahnya.
Saat migrain menyerang, fokus utama seharusnya adalah menenangkan sistem saraf dan menjaga hidrasi tubuh. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik. Minuman lain yang relatif aman antara lain air hangat, air mineral bersuhu ruang, teh herbal bebas kafein seperti chamomile atau jahe, serta minuman elektrolit rendah gula jika tubuh terasa sangat lemas.
Sumber: