Viral di Media Sosial, Ini Alasan Botanical Latte Digemari Gen Z
Viral di Media Sosial, Ini Alasan Botanical Latte Digemari Gen Z-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Industri minuman kekinian di Indonesia terus bergerak dinamis mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat. Jika beberapa tahun silam kopi susu gula aren menjadi ikon utama di berbagai sudut kota, memasuki awal 2026 tren tersebut mulai bergeser. Panggung utama kini diisi oleh Botanical Latte, sebuah inovasi minuman yang memadukan unsur tradisi, estetika modern, serta kesadaran akan kesehatan fisik dan mental.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa konsumen, khususnya Generasi Z, tidak lagi sekadar mencari minuman penghilang dahaga, melainkan pengalaman yang menyentuh aspek visual, emosional, dan kesehatan secara menyeluruh. Botanical Latte bukan hanya alternatif kopi tanpa kafein, tetapi simbol transformasi jamu Nusantara ke dalam bentuk yang lebih relevan dengan zaman. Minuman ini memanfaatkan ekstrak tanaman fungsional seperti bunga telang, kunyit, bit merah, jahe, temulawak, hingga lavender yang dipadukan dengan susu nabati.
Inovasi tersebut sejalan dengan pengembangan ekonomi kreatif sektor kuliner sebagaimana didorong oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yakni mengangkat bahan lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi. Warna alami biru, kuning keemasan, hingga merah muda yang dihasilkan dari pigmen tanaman menciptakan daya tarik visual kuat tanpa bergantung pada pewarna buatan.
Dari sisi kesehatan, Botanical Latte hadir menjawab kekhawatiran generasi muda terhadap konsumsi gula dan kafein berlebih. Pemanis yang digunakan cenderung lebih alami, seperti madu hutan, nektar kelapa, atau stevia. Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa peningkatan risiko penyakit metabolik pada usia produktif mendorong masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih asupan harian.
BACA JUGA: Satresnarkoba Polres Rejang Lebong Bongkar Kebun Ganja Mini di Dalam Rumah
BACA JUGA: K3 Tak Sekadar Cegah Kecelakaan Kerja, Ini Penjelasan Menaker Yassierli
Botanical Latte menawarkan profil rasa yang kompleks, seperti perpaduan rasa earthy dari rempah, aroma floral dari bunga, dan tekstur creamy dari susu nabati yang memberikan kepuasan rasa lebih kaya dibandingkan minuman manis biasanya. Keunggulan lain Botanical Latte terletak pada manfaat fungsionalnya. Berbeda dengan kopi susu yang kerap memicu gangguan asam lambung atau kegelisahan, minuman herbal ini justru dikenal memiliki efek menenangkan dan mendukung daya tahan tubuh.
Golden Latte berbahan dasar kunyit, misalnya, mengandung kurkumin yang bersifat antiinflamasi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menekankan bahwa jahe dan temulawak, jika diolah dengan tepat, efektif membantu menjaga imunitas, terutama bagi masyarakat urban dengan tingkat stres tinggi. Tidak heran jika Gen Z memandang Botanical Latte sebagai bentuk "investasi kesehatan dan kecantikan" karena kandungan antioksidannya yang baik bagi kulit.
Daya tarik Botanical Latte semakin kuat berkat aspek visualnya. Teknik penyajian seperti gradasi warna alami dan latte art di atas susu kental sangat sesuai dengan estetika media sosial tahun 2026. Warna biru bunga telang yang berubah menjadi ungu saat bereaksi dengan lemon atau rona merah muda lembut dari bit merah menjadikan minuman ini sangat fotogenik. Kajian tren digital dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa konten dengan warna alami dan kontras lembut cenderung mendapatkan tingkat interaksi lebih tinggi. Hal ini membuat Botanical Latte cepat viral dan diminati para kreator gaya hidup.
Tren penggunaan susu nabati seperti oat, almond, dan kedelai juga memperkuat citra keberlanjutan yang dipegang generasi muda. Selain lebih ramah lingkungan, susu nabati lebih mudah dicerna oleh mereka yang memiliki intoleransi laktosa. Rasa gurih kacang dari susu oat berpadu harmonis dengan rempah, menciptakan pengalaman baru yang tidak ditemukan pada kopi susu tradisional. Bagi pekerja muda, menikmati Botanical Latte di sore hari menjadi ritual self-care untuk meredakan stres tanpa risiko penurunan energi drastis seperti yang sering terjadi setelah konsumsi kopi.
BACA JUGA: Rumah Bebas Nyamuk Saat Musim Hujan, Ini Rahasia yang Jarang Diketahui
BACA JUGA: Masih Nekat Makan Makanan Kaleng Penyok ? Simak Dampaknya bagi Kesehatan
Menariknya, Botanical Latte juga membuka peluang ekonomi baru. Indonesia memiliki kekayaan rempah yang melimpah dan relatif terjangkau. Kementerian Koperasi dan UKM menilai bahwa dengan inovasi kemasan dan penyajian modern, jamu tradisional dapat mengalami peningkatan nilai jual secara signifikan. Transformasi ini memungkinkan pelaku usaha lokal bertahan dan berkembang di tengah pasar kopi yang semakin jenuh.
Dengan memadukan kekayaan rempah Nusantara, tampilan visual modern, serta manfaat fungsional bagi tubuh dan pikiran, minuman ini berhasil menjembatani tradisi dan modernitas. Memilih Botanical Latte berarti tidak hanya mengikuti arus tren, tetapi juga mendukung kesehatan jangka panjang, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Sehat, indah, dan bermakna, itulah esensi Botanical Latte di era 2026.
Sumber: