Jangan Sembarangan Makan Buah Jatuh, Ini Risiko Virus Nipah Menurut Dokter Anak

Jangan Sembarangan Makan Buah Jatuh, Ini Risiko Virus Nipah Menurut Dokter Anak

Buah jatuh-Ist-

CURUPEKSPRESS.COM - Kehadiran kelelawar di sekitar permukiman manusia bukanlah hal yang asing, terutama di wilayah perkebunan, pedesaan, atau lingkungan yang memiliki banyak pohon buah. Hewan nokturnal ini kerap mencari makan pada malam hari dan sering memanfaatkan tanaman buah yang tumbuh di sekitar tempat tinggal manusia. Meski terlihat sepele, kedekatan antara manusia dan kelelawar menyimpan potensi risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah penularan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Buah yang telah tergigit atau terkontaminasi air liur kelelawar dapat menjadi media penularan berbagai patogen, termasuk virus Nipah. Virus ini dikenal sebagai salah satu penyakit menular yang berbahaya karena memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, mengimbau para orang tua agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya dalam mengawasi kebiasaan anak-anak. Ia menegaskan pentingnya melarang anak mengonsumsi buah yang ditemukan di tanah atau buah yang tampak memiliki bekas gigitan hewan, terutama kelelawar. Menurutnya, kebiasaan tersebut masih sering terjadi, terutama di daerah pedesaan, di mana anak-anak kerap memungut buah yang jatuh karena dianggap masih layak konsumsi.

BACA JUGA:Jarang Disadari, Minuman Sehari-hari Ini Mengandung Magnesium Tinggi

BACA JUGA:Bulog Rejang Lebong Siapkan 1.429 Ton Beras Jelang Ramadhan

Dalam sebuah webinar, Piprim menjelaskan bahwa tidak sedikit anak yang memilih memakan buah sisa gigitan kelelawar karena enggan memanjat pohon. Padahal, jika kelelawar tersebut membawa virus Nipah, maka sisa air liur atau bekas gigitan pada buah dapat menjadi pintu masuk virus ke dalam tubuh manusia. Kondisi ini sangat berbahaya, terlebih bagi anak-anak yang sistem kekebalannya masih berkembang.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan pembawa virus, seperti kelelawar dan babi, maupun melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Selain menyerang manusia, virus ini juga dapat menginfeksi beberapa jenis hewan ternak, sehingga memperluas potensi penularan di lingkungan sekitar.

Tingkat kematian akibat infeksi virus Nipah tergolong sangat tinggi, yakni mencapai sekitar 75 persen. Artinya, tiga dari empat orang yang terinfeksi berisiko meninggal dunia, terutama apabila tidak mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat. Tingginya angka fatalitas ini menjadikan virus Nipah sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Karena sifat penularannya yang melibatkan hewan, Piprim menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap keberadaan hewan liar maupun ternak di sekitar tempat tinggal. Ia juga menilai perlunya kerja sama antara orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam melaporkan kejadian kematian mendadak pada hewan liar atau ternak. Pelaporan dini dinilai penting untuk mencegah potensi penularan yang lebih luas.

BACA JUGA:Bupati Rejang Lebong Saat Berkunjung Ke Kemenristek Dikti RI Bahas SMA Unggul Garudap

BACA JUGA: Tak Sekadar Kunci Layar, Ini Terobosan Keamanan Android Terbaru dari Google

Hingga saat ini, virus Nipah belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. Gejala awal infeksi pun sering kali menyerupai penyakit virus pada umumnya, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan rasa tidak enak badan. Akibatnya, banyak kasus yang tidak terdeteksi sejak awal. Jika tidak segera ditangani, infeksi virus Nipah dapat berkembang menjadi peradangan otak (ensefalitis) yang menyerang sistem saraf serta organ vital lainnya.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan untuk kembali membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai penyakit infeksi, termasuk penyakit zoonosis. Menjaga kebersihan makanan, mencuci buah sebelum dikonsumsi, serta menghindari kontak langsung dengan hewan berisiko merupakan langkah sederhana namun efektif.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala sejak dini dan tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang tidak biasa, terutama setelah berinteraksi dengan hewan atau berada di lingkungan berisiko. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan apabila muncul gejala yang mencurigakan.

Sumber: