Lebih Efektif dan Aman, Terapi HNS Generasi Baru Tawarkan Harapan bagi Penderita Apnea Tidur

 Lebih Efektif dan Aman, Terapi HNS Generasi Baru Tawarkan Harapan bagi Penderita Apnea Tidur

Lebih Efektif dan Aman, Terapi HNS Generasi Baru Tawarkan Harapan bagi Penderita Apnea Tidur--

 

CURUPEKSPRESS.COM - Peneliti dari Flinders University, Australia, mengembangkan sebuah terobosan baru dalam penanganan apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea/OSA), yaitu gangguan pernapasan yang terjadi akibat tersumbatnya saluran napas saat seseorang tertidur. Kondisi ini kerap ditandai dengan dengkuran keras, napas terhenti sesaat saat tidur, serta rasa lelah berlebihan pada siang hari. Apnea tidur obstruktif tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga berisiko memicu berbagai masalah kesehatan serius, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, hingga gangguan konsentrasi.

Pendekatan terbaru ini merupakan pengembangan dari terapi stimulasi saraf hipoglosus (hypoglossal nerve stimulation/HNS). Terapi HNS bekerja dengan cara memberikan rangsangan listrik ringan pada saraf hipoglosus, yaitu saraf yang berperan dalam mengontrol pergerakan lidah. Dengan stimulasi tersebut, posisi lidah dapat dijaga agar tidak jatuh ke belakang dan menutup saluran napas selama tidur, sehingga aliran udara tetap lancar.

Selama ini, penerapan terapi HNS masih memiliki sejumlah keterbatasan. Pasien harus menjalani prosedur pembedahan untuk menanamkan implan berukuran relatif besar di dalam tubuh. Prosedur tersebut bersifat invasif, membutuhkan waktu operasi yang cukup lama, serta tidak selalu memberikan hasil yang optimal bagi setiap pasien. Selain itu, tidak semua penderita apnea tidur obstruktif memenuhi kriteria medis untuk menjalani terapi HNS konvensional, sehingga pilihan pengobatan mereka menjadi terbatas.

BACA JUGA: BPOM Terapkan Nutri Grade 2026, Ini Dampaknya bagi Konsumen dan Industri

BACA JUGA:OPD Diminta Lebih Agresif Gaet Investor, Ini Imbauan Pemkab Rejang Lebong Dorong

Melalui penelitian terbaru, tim peneliti dari Flinders University berupaya mengatasi kendala tersebut dengan merancang elektroda HNS berukuran lebih kecil. Elektroda ini didesain agar lebih mudah dipasang, lebih fleksibel dalam pengaturan, serta berpotensi mengurangi risiko dan ketidaknyamanan bagi pasien. Inovasi ini diharapkan dapat memperluas cakupan pasien yang dapat memperoleh manfaat dari terapi stimulasi saraf hipoglosus.

Hasil uji coba awal menunjukkan temuan yang sangat menjanjikan. Dalam uji stimulasi singkat yang dilakukan selama beberapa siklus pernapasan, elektroda HNS generasi terbaru ini berhasil membuka saluran napas pada 13 dari 14 partisipan. Tingkat keberhasilan tersebut setara dengan sekitar 93 persen, sebuah angka yang dinilai sangat signifikan untuk tahap awal pengembangan teknologi medis.

Menariknya, pada beberapa kasus, alat ini tetap mampu berfungsi secara efektif bahkan ketika pernapasan partisipan sempat berhenti sepenuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa elektroda berukuran kecil tersebut memiliki potensi respons yang cepat dan efektif dalam kondisi kritis, sehingga dapat memberikan perlindungan tambahan bagi pasien dengan apnea tidur obstruktif yang berat.

Simon Carney, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorok (THT) dari Flinders University, menjelaskan bahwa prosedur pemasangan alat ini relatif singkat dan minim ketidaknyamanan. Ia menyebutkan bahwa pemasangan dilakukan sekitar 90 menit dengan bantuan panduan ultrasonografi, tanpa memerlukan operasi besar. Menurutnya, pencapaian paling penting dari penelitian ini adalah keberhasilan membuka saluran napas pada pasien yang sebelumnya dianggap tidak cocok menjalani terapi HNS.

BACA JUGA: Tak Sekadar Takjil, Ini Manfaat Kurma dan Keju untuk Tubuh Saat Berbuka Puasa

BACA JUGA:Orang Galak Saat Ditagih Utang? Ini Penjelasan Psikologis yang Jarang Diketahui

Meskipun teknologi ini masih membutuhkan pengembangan lanjutan sebelum dapat digunakan secara luas, para peneliti menilai bahwa inovasi tersebut berpotensi mengubah paradigma penanganan apnea tidur obstruktif. Prosedur pemasangan alat yang lebih sederhana memungkinkan perawatan dilakukan di klinik, tanpa harus melalui rawat inap atau pembedahan besar di rumah sakit.

Dengan pendekatan yang lebih minim invasif, terapi ini berpeluang menjadi alternatif yang lebih aman dan nyaman bagi penderita apnea tidur obstruktif. Pasien yang memenuhi syarat dapat memperoleh penanganan lebih cepat, dengan masa pemulihan yang relatif singkat. Selain itu, teknologi ini juga membuka peluang untuk penyesuaian terapi yang lebih presisi sesuai kondisi masing-masing pasien, sehingga efektivitas pengobatan dapat ditingkatkan.

Sumber: