Urutan Takjil Paling Sehat Versi Menkes Budi Gunadi Sadikin, Ini Penjelasannya

 Urutan Takjil Paling Sehat Versi Menkes Budi Gunadi Sadikin, Ini Penjelasannya

Urutan Takjil Paling Sehat Versi Menkes Budi Gunadi Sadikin, Ini Penjelasannya-ist-

 

CURUPEKSPRESS.COM - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana Ramadan selalu identik dengan aneka takjil yang menggugah selera. Berbagai makanan dan minuman manis tersaji di pasar kaget, pinggir jalan, hingga pusat perbelanjaan. Namun, di balik kelezatannya, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa tidak semua takjil memiliki nilai gizi yang sama. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, pernah membagikan pandangannya mengenai peringkat atau "kasta" takjil berdasarkan tingkat kesehatannya. Pandangan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan saat berbuka puasa.

Dalam penilaiannya, gorengan dan kue basah seperti kue lapis ditempatkan pada kategori terbawah, yakni kategori D atau paling tidak sehat. Alasannya cukup jelas dan dapat dipahami secara ilmiah. Gorengan umumnya diolah dengan teknik menggoreng dalam minyak banyak (deep frying), sehingga menyerap lemak dalam jumlah tinggi. Sementara itu, kue basah berbahan dasar tepung dan gula yang cukup dominan. Kombinasi tepung olahan, gula tambahan, serta minyak berlebih dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak jenuh. Jika dikonsumsi secara berlebihan, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kenaikan berat badan, kolesterol tinggi, hingga gangguan metabolisme. Oleh karena itu, jenis takjil ini sebaiknya dikonsumsi secara terbatas dan tidak dijadikan menu utama saat berbuka.

Di sisi lain, kolak pisang atau ubi dinilai berada pada kategori B atau cukup sehat. Meskipun kolak identik dengan rasa manis karena penggunaan gula dan santan, bahan utamanya seperti pisang dan ubi memiliki kandungan serat yang baik bagi tubuh. Serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan, membantu mengontrol kadar gula darah, serta memberikan rasa kenyang lebih lama. Jika diolah dengan santan rendah lemak atau takaran gula yang lebih terkontrol, kolak dapat menjadi pilihan yang relatif lebih seimbang dibandingkan gorengan.

Selain kolak, kurma juga termasuk takjil yang sangat dianjurkan. Buah ini tidak hanya memiliki nilai historis dan religius dalam tradisi berbuka puasa, tetapi juga kaya manfaat secara gizi. Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang dapat dengan cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Di samping itu, kandungan serat, vitamin, serta mineral seperti kalium menjadikannya pilihan yang baik untuk membantu tubuh beradaptasi kembali dengan asupan makanan.

Takjil sehat sebenarnya tidak terbatas pada kurma. Puding polos yang dipadukan dengan potongan buah segar seperti stroberi, kiwi, atau jeruk juga dapat menjadi alternatif yang menyegarkan dan bernutrisi. Buah-buahan mengandung vitamin, antioksidan, serta serat yang mendukung daya tahan tubuh. Namun, penting untuk memperhatikan kadar gula tambahan pada puding agar tidak berlebihan. Prinsip utama dalam memilih takjil adalah keseimbangan gizi dan pengendalian porsi.

Berbuka puasa idealnya diawali dengan makanan ringan yang mudah dicerna dan tidak memberatkan lambung. Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan makanan utama yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral secara seimbang. Pola ini membantu tubuh menyesuaikan diri setelah kurang lebih 12 jam tidak menerima asupan makanan dan minuman.

Dengan pemilihan yang bijak dan pengendalian porsi, momen berbuka tidak hanya menjadi waktu yang menyenangkan, tetapi juga mendukung kesehatan tubuh secara optimal. 

 

 

Sumber: