BMKG Ungkap Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia, Waspadai Kekeringan
BMKG Ungkap Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia, Waspadai Kekeringan-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih cepat dibandingkan pola klimatologi normal. Kondisi ini berkaitan dengan perubahan dinamika iklim global setelah fenomena La Niña lemah yang berlangsung pada akhir 2025 hingga awal 2026 berangsur berakhir.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa hasil pemantauan terhadap anomali iklim di kawasan Samudra Pasifik menunjukkan indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 yang menandakan kondisi Netral. Situasi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga sekitar Juni 2026. Namun demikian, pada pertengahan tahun peluang munculnya fenomena El Niño kategori lemah hingga moderat mulai meningkat.
Faisal menyampaikan bahwa kemungkinan terjadinya El Niño pada semester kedua tahun 2026 diperkirakan mencapai 50-60 persen sehingga perlu menjadi perhatian berbagai pihak. Menurutnya, fenomena tersebut dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia, terutama pada periode musim kemarau.
"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada fase Netral sepanjang tahun," ujar Faisal dalam konferensi pers prakiraan awal musim kemarau 2026 yang digelar di Jakarta.
BACA JUGA: Kematian GFR di Desa Batu Bandung Masih Jadi Sorotan, Hasil Autopsi Ditunggu Publik
BACA JUGA: Eksplorasi Kuliner Kepahiang! Parmins Food Jadi Destinasi Favorit Pecinta Makanan
Secara klimatologis, awal musim kemarau di Indonesia biasanya ditandai dengan perubahan arah angin dari Monsun Asia (angin baratan) menuju Monsun Australia (angin timuran). Pergantian pola angin ini membawa massa udara yang lebih kering sehingga curah hujan berangsur menurun.
BMKG mencatat bahwa sekitar 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut antara lain mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau akan terus bertambah pada bulan berikutnya. Sebanyak 184 ZOM diperkirakan mengalami awal musim kemarau pada Mei 2026, sedangkan 163 ZOM lainnya akan menyusul pada Juni 2026.
"Secara keseluruhan, sekitar 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dibandingkan kondisi normal," kata Ardhasena.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian wilayah Sulawesi, Maluku, hingga beberapa daerah di Papua.
BMKG juga memproyeksikan bahwa puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi kemarau maksimum. Sementara sebagian wilayah lain diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli dan September.
BACA JUGA: Hebat! Indonesia Pimpin Produksi Nanas Global, Ini Manfaat Kesehatannya
Sumber: