Idulfitri 1447 H Berpotensi Diguyur Hujan, Ini Prediksi Lengkap dari BMKG
Idulfitri 1447 H Berpotensi Diguyur Hujan, Ini Prediksi Lengkap dari BMKG-Ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Momentum Lebaran yang identik dengan arus mudik dan mobilitas tinggi diperkirakan masih berada dalam pengaruh musim hujan, sehingga potensi cuaca ekstrem belum sepenuhnya mereda.
Informasi ini menjadi penting karena kondisi atmosfer yang dinamis dapat berdampak langsung pada keselamatan perjalanan darat, laut, maupun udara.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa memasuki bulan Maret, curah hujan di berbagai wilayah Indonesia diproyeksikan berada pada kategori rendah hingga tinggi.
BACA JUGA:Karyawan Koperasi Dilaporkan Hilang Usai Nginap di Kantor
BACA JUGA:Alternatif Hukuman Penjara, Pemkab Rejang Lebong Matangkan Penerapan Pidana Kerja Sosial
Namun, beberapa daerah memiliki potensi hujan dengan intensitas sangat tinggi, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah. Wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi perhatian utama karena merupakan jalur dengan volume pemudik terbesar setiap tahunnya. Curah hujan tinggi di kawasan tersebut berisiko memicu banjir, tanah longsor, serta gangguan transportasi.
Dalam rapat koordinasi persiapan penyelenggaraan angkutan Lebaran di Kementerian Perhubungan, BMKG menegaskan bahwa potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi saat Idulfitri berlangsung. Cuaca ekstrem yang dimaksud mencakup hujan lebat disertai kilat atau petir, angin kencang, serta kemungkinan gelombang tinggi di perairan tertentu.
BACA JUGA:Pemkab Perjuangkan 1.900 Unit Bedah Rumah ke Kementerian PKP
BACA JUGA:11 Poin Strategis jadi Arah Pembangunan Rejang Lebong TA 2027
Situasi ini menuntut kesiapan lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat sebagai pengguna transportasi.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG mendorong penerapan strategi terpadu, salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya ini dilakukan secara situasional berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan ilmiah yang matang. OMC bertujuan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah yang berisiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Pemerintah daerah dengan tingkat kerawanan tinggi dianjurkan berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG guna memastikan pelaksanaan OMC berjalan efektif dan tepat sasaran.
BMKG juga memastikan bahwa pemantauan atmosfer dilakukan secara berkelanjutan. Analisis data cuaca, citra satelit, serta model prakiraan terus diperbarui untuk menghasilkan informasi yang akurat dan tepat waktu.
Apabila muncul potensi bahaya signifikan, seperti kejadian siklon tropis yang pernah terjadi sebelumnya, BMKG akan segera menyampaikan peringatan dini, termasuk melalui surat resmi kepada kepala daerah agar langkah antisipatif dapat segera dilakukan. Transparansi dan kecepatan informasi menjadi kunci dalam meminimalkan risiko korban maupun kerugian material.
Sumber: