Ini Daftar Wilayah yang Masuk Musim Kemarau Mei 2026, Cek Daerah Anda!

Ini Daftar Wilayah yang Masuk Musim Kemarau Mei 2026, Cek Daerah Anda!

Sudah Masuk Musim Kemarau Tapi Masih Hujan? Simak Penyebabnya Disini!--

 

CURUPEKSPRESS.COM - Memasuki bulan Mei 2026, sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami pergeseran menuju musim kemarau. Perubahan ini sejalan dengan prakiraan yang sebelumnya telah dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, yang memprediksi bahwa awal musim kemarau tahun ini terjadi secara bertahap sejak April hingga Juni.

Fenomena peralihan musim di Indonesia memang dikenal tidak berlangsung serentak. Hal ini dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia yang luas serta karakteristik iklim tropis yang kompleks. Oleh karena itu, setiap wilayah memiliki waktu awal kemarau yang berbeda-beda, tergantung pada dinamika atmosfer dan kondisi regional masing-masing.

Berdasarkan publikasi resmi BMKG dalam buku Prediksi Musim Kemarau 2026, pada Mei 2026 diperkirakan terdapat sekitar 184 Zona Musim (ZOM), atau setara dengan 26,3 persen wilayah Indonesia, yang mulai memasuki musim kemarau.

Angka ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, sekaligus menandakan meluasnya area yang terdampak peralihan musim.

Wilayah yang diprediksi mulai mengalami kemarau pada Mei meliputi bagian utara Aceh, sebagian wilayah Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Lampung. Selain itu, sebagian besar Pulau Jawa juga diperkirakan memasuki periode kering pada bulan ini.

Di luar Sumatera dan Jawa, wilayah lain seperti Bali bagian tengah, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah bagian tenggara, Kalimantan Selatan bagian barat, serta Sulawesi Selatan bagian barat turut masuk dalam daftar wilayah yang mengalami awal musim kemarau.

Di kawasan Indonesia timur, beberapa wilayah juga mulai menunjukkan tanda-tanda kemarau, seperti sebagian Maluku, Papua bagian timur, Papua Pegunungan, dan sebagian Papua Selatan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa distribusi musim kemarau mencakup hampir seluruh kepulauan, meskipun dengan intensitas dan waktu yang berbeda.

Secara klimatologis, musim kemarau di Indonesia dipengaruhi oleh angin monsun timur yang membawa massa udara kering dari Australia. Pada periode ini, curah hujan cenderung menurun drastis, sehingga meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah daerah.

BMKG juga memperkirakan bahwa sifat musim kemarau 2026 akan didominasi oleh kondisi "bawah normal", yang berarti curah hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata tahunan.

Selain itu, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Durasi musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih panjang dari biasanya, yang dapat berdampak pada berbagai sektor, terutama pertanian, ketersediaan air bersih, serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sejumlah pakar iklim menyarankan agar pemerintah daerah dan masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini. Di sektor pertanian, misalnya, petani diimbau menyesuaikan pola tanam dengan kalender musim yang telah diperbarui. Sementara itu, pengelolaan sumber daya air perlu ditingkatkan untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga selama periode kemarau panjang.

Tidak hanya itu, masyarakat juga diharapkan lebih bijak dalam penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang kerap terjadi saat musim kemarau, seperti kekeringan dan kebakaran lahan. Edukasi mengenai mitigasi risiko juga menjadi kunci dalam mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan.

Sumber: