CURUPEKSPRESS.COM - Selama ini, kanker paru-paru kerap dipahami sebagai penyakit yang erat kaitannya dengan kebiasaan merokok dan paparan polusi udara. Pandangan tersebut memang tidak keliru, mengingat dua faktor itu merupakan penyebab utama kanker paru-paru di berbagai negara. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa risiko kanker paru tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan gaya hidup tertentu, tetapi juga oleh aspek lain yang sering luput dari perhatian, salah satunya adalah pola makan.
Pola makan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesehatan paru-paru. Asupan makanan yang tidak seimbang dapat memicu berbagai gangguan metabolik dan peradangan kronis, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap munculnya penyakit serius, termasuk kanker. Oleh karena itu, memahami jenis makanan yang berpotensi meningkatkan risiko kanker paru menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan.
Salah satu kelompok makanan yang kini menjadi sorotan adalah ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-olahan. Jenis makanan ini telah lama dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, hingga beberapa jenis kanker. Mengutip laporan CNN, UPF banyak ditemukan dalam produk sehari-hari yang mudah dijumpai, seperti minuman bersoda, keripik kemasan, nugget ayam, sosis, hingga es krim.
BACA JUGA: Jerawat Dahi Membandel Bisa Berasal dari Sampo, Ini Fakta yang Jarang Diketahui
BACA JUGA:Mengenal Blue Matcha, Minuman Kekinian Bebas Kafein yang Menenangkan
Makanan dan minuman ultra-olahan umumnya melalui proses industri yang kompleks. Dalam proses tersebut, produsen menambahkan berbagai zat seperti pengawet untuk mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri, pewarna buatan, serta gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi atau yang telah dimodifikasi. Tujuannya adalah memperpanjang masa simpan sekaligus meningkatkan cita rasa dan tampilan makanan agar lebih menarik bagi konsumen.
Hubungan antara konsumsi UPF dan kanker paru-paru semakin diperkuat oleh sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Thorax. Studi ini menemukan bahwa individu dengan tingkat konsumsi UPF tertinggi memiliki risiko 41 persen lebih besar untuk didiagnosis kanker paru-paru dibandingkan mereka yang mengonsumsi UPF dalam jumlah paling rendah.
Untuk mendapatkan hasil tersebut, para peneliti menganalisis data lebih dari 100 ribu orang yang berpartisipasi dalam Survei Kesehatan dan Gizi Nasional. Para peserta diminta mengisi Kuesioner Frekuensi Makanan untuk menggambarkan kebiasaan makan mereka dalam jangka waktu tertentu. Data ini kemudian dibandingkan dengan catatan medis guna mengidentifikasi kasus kanker paru-paru.
Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata responden mengonsumsi hampir tiga porsi UPF setiap hari. Jenis UPF yang paling sering dikonsumsi meliputi daging olahan, minuman ringan berkafein atau diet, serta minuman ringan tanpa kafein. Angka ini mencerminkan betapa dominannya makanan ultra-olahan dalam pola makan masyarakat modern.
BACA JUGA: Daftar Makanan yang Harus Dibatasi Saat Diet agar Lemak Perut Cepat Hilang
BACA JUGA:Tak Selalu Aman, Ini Efek Samping Nanas bagi Kesehatan
Para peneliti menjelaskan bahwa proses pengolahan industri dapat mengubah struktur alami makanan atau yang dikenal sebagai matriks makanan. Perubahan ini memengaruhi ketersediaan dan penyerapan zat gizi dalam tubuh, sekaligus dapat menghasilkan kontaminan berbahaya. Kombinasi faktor tersebut diduga berperan dalam meningkatkan risiko kanker.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, studi ini tidak dapat membuktikan secara langsung bahwa konsumsi UPF menyebabkan kanker paru-paru. Namun, temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara keduanya dan patut menjadi perhatian.
Pakar kedokteran preventif dan gaya hidup, Dr David Katz, menyatakan bahwa hasil penelitian ini memberikan indikasi kuat bahwa UPF dapat berkontribusi terhadap risiko kanker paru-paru. Ia menambahkan bahwa konsumsi UPF sering kali berkaitan dengan rendahnya kualitas diet, seperti tingginya asupan lemak jenuh, gula, garam, bahan kimia, serta kalori berlebih. Kondisi ini dapat memicu peradangan kronis dan merusak keseimbangan mikrobioma usus, yang berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh.
BACA JUGA: Butterfly Stretch dan Perannya dalam Menjaga Kesehatan Otot Panggul