CURUPEKSPRESS.COM - Plastik selama ini identik dengan persoalan pencemaran lingkungan. Namun, seiring berkembangnya penelitian ilmiah, plastik kini juga dipandang sebagai isu kesehatan yang tidak kalah serius. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian para peneliti dan tenaga medis tertuju pada keberadaan plastik dalam rantai makanan manusia. Tanpa disadari, partikel plastik berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.
Mikroplastik merupakan fragmen plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang terbentuk akibat proses degradasi plastik dalam jangka waktu panjang. Proses ini dapat terjadi di laut, sungai, tanah, hingga berasal dari bahan kemasan pangan. Karena ukurannya sangat kecil dan nyaris tak terlihat oleh mata, keberadaan mikroplastik sering luput dari perhatian. Padahal, paparan secara terus-menerus dikhawatirkan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia.
BACA JUGA: Tak Sekadar Pewangi Masakan, Ini Manfaat Air Rebusan Daun Pandan
BACA JUGA: Sekali Makan Sehari, Benarkah Diet OMAD Aman ? Ini Penjelasan Pakarnya
Berikut beberapa jenis makanan dan minuman yang diketahui berpotensi mengandung mikroplastik, beserta penjelasan mengenai bagaimana partikel tersebut dapat mencemari pangan.
• Teh Celup Berkantung
Teh celup menjadi minuman favorit banyak orang karena praktis dan mudah disajikan. Namun, tidak semua kantung teh terbuat dari kertas alami. Sebagian produsen menggunakan campuran serat plastik atau polimer sintetis agar kantung lebih kuat dan tahan terhadap air panas.
Saat diseduh dengan suhu tinggi, bahan plastik tersebut berpotensi melepaskan mikroplastik ke dalam air seduhan. Kondisi ini membuat konsumsi teh celup berkantung perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan secara rutin. Sebagai alternatif, masyarakat dapat memilih teh daun lepas yang diseduh menggunakan saringan berbahan stainless steel atau keramik.
• Garam Konsumsi
Garam dapur, khususnya yang berasal dari air laut, menjadi salah satu produk pangan yang sering ditemukan mengandung mikroplastik. Tingginya pencemaran laut oleh limbah plastik menyebabkan partikel-partikel kecil tersebut ikut terperangkap dalam proses penguapan air laut menjadi garam.
Meskipun kadar mikroplastik dalam garam relatif kecil, konsumsi garam yang dilakukan setiap hari membuat paparan jangka panjang tetap menjadi perhatian para ahli. Mengurangi asupan garam harian dan mempertimbangkan penggunaan garam non-laut dapat menjadi langkah sederhana untuk meminimalkan risiko.
• Ikan dan Hasil Laut
Ikan, kerang, dan berbagai hasil laut lainnya hidup di perairan yang kini sarat dengan limbah plastik. Banyak organisme laut tidak sengaja menelan mikroplastik, baik langsung dari air maupun melalui plankton yang telah terkontaminasi.
Ketika seafood dikonsumsi manusia, partikel mikroplastik tersebut berpotensi ikut masuk ke dalam tubuh. Risiko ini lebih tinggi pada jenis hewan laut yang dikonsumsi beserta organ pencernaannya, seperti kerang dan udang kecil. Untuk mengurangi paparan, masyarakat dianjurkan tidak hanya bergantung pada hasil laut sebagai sumber protein serta membersihkan ikan dengan saksama sebelum diolah.
BACA JUGA: Jarang Dicoba, Ini Cara Mengukus Kacang Tanah agar Empuk dan Gurih