Tak Sekadar Pedas, Ini Sejarah dan Keunikan Maeun Dakbal Khas Korea Selatan

 Tak Sekadar Pedas, Ini Sejarah dan Keunikan Maeun Dakbal Khas Korea Selatan

ilustrasi sambal--

CURUPEKSPRESS.COM - Ayam merupakan salah satu bahan pangan yang sangat populer dan banyak dimanfaatkan dalam berbagai tradisi kuliner dunia, termasuk di Korea Selatan. Selain dagingnya yang mudah diolah, hampir seluruh bagian ayam dapat dimanfaatkan menjadi beragam hidangan bercita rasa khas. Salah satu bagian yang kerap diolah dan memiliki penggemar tersendiri adalah kaki ayam atau yang lebih dikenal sebagai ceker. Di balik tampilannya yang sederhana, ceker ayam justru menjadi bahan utama dalam sejumlah hidangan tradisional yang memiliki nilai budaya dan cita rasa yang kuat.

Di Korea Selatan, ceker ayam diolah menjadi sajian khas bernama maeun dakbal. Secara etimologis, istilah maeun dakbal berasal dari gabungan tiga kata dalam bahasa Korea, yakni "maeun" yang berarti pedas, "dak" yang bermakna ayam, serta "bal" yang berarti kaki. Jika dimaknai secara harfiah, maeun dakbal dapat diartikan sebagai hidangan ceker ayam dengan cita rasa pedas.

Penamaan tersebut secara jelas menggambarkan karakter utama hidangan ini, yakni sensasi pedas yang kuat dan menggugah selera. Tak heran apabila maeun dakbal dikenal sebagai salah satu makanan ekstrem bagi pencinta rasa pedas, bahkan di kalangan masyarakat Korea sendiri.

BACA JUGA: Tanah Terlantar Bisa Disita Negara? Ini Isi Lengkap PP 48 Tahun 2025 BACA JUGA: Cegah Kenaikan Harga Sembako, Disperindag Rejang Lebong Siap Gelar Operasi Pasar

Cita rasa pedas yang khas pada maeun dakbal tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari penggunaan bumbu tradisional Korea, yaitu gochujang dan gochugaru. Gochujang merupakan pasta cabai fermentasi yang memiliki rasa pedas, manis, dan sedikit gurih, sedangkan gochugaru adalah bubuk cabai khas Korea yang memberikan sensasi pedas tajam sekaligus warna merah menyala. Kombinasi kedua bahan inilah yang membuat tampilan maeun dakbal cenderung berwarna merah pekat serta memiliki aroma yang kuat dan menggoda. Warna kemerahan tersebut juga menjadi ciri visual yang mudah dikenali dari hidangan ini.

Dalam proses penyajiannya, ceker ayam terlebih dahulu dibersihkan dan direbus hingga teksturnya menjadi empuk. Setelah itu, ceker dimasak kembali bersama bumbu pedas hingga meresap sempurna. Hidangan ini biasanya disajikan dengan taburan daun bawang iris dan wijen sangrai yang tidak hanya menambah aroma, tetapi juga memperkaya tampilan visual. Tekstur kenyal dari ceker berpadu dengan bumbu pedas yang intens, menciptakan pengalaman makan yang unik dan berbeda dari olahan ayam pada umumnya.

BACA JUGA:Eks Kepala SMPN 2 Rejang Lebong Diperiksa Kejari, Dugaan Penyalahgunaan Dana BOS Mencuat

BACA JUGA:Nangka Muda Baik untuk Pencernaan Manusia

Di Korea Selatan, maeun dakbal kerap disantap sebagai kudapan atau camilan saat bersantai. Hidangan ini sering menemani waktu menonton televisi, berkumpul bersama teman, atau berbincang santai di malam hari. Selain itu, maeun dakbal juga dikenal sebagai makanan pendamping saat menikmati minuman beralkohol tradisional Korea, seperti soju. Sensasi pedasnya dipercaya mampu menyeimbangkan rasa minuman sekaligus meningkatkan selera makan. Meski demikian, dalam beberapa kesempatan, maeun dakbal juga disajikan sebagai lauk pendamping nasi.

Menariknya, kegemaran mengolah ceker ayam ternyata tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Korea Selatan pun memiliki tradisi kuliner yang memanfaatkan bagian ayam ini secara kreatif dan berkarakter. Popularitas maeun dakbal semakin meningkat seiring dengan maraknya film dan drama seri Korea Selatan yang menampilkan adegan menyantap hidangan ini. Bagi para penikmat budaya Korea, maeun dakbal bukan sekadar makanan, melainkan juga bagian dari gaya hidup dan kebiasaan sosial masyarakatnya.

BACA JUGA: Indonesia Hadapi Risiko Cuaca Ekstrem, BMKG Soroti Pergerakan Siklon Tropis

BACA JUGA: Sering Disalahartikan, Ini Perbedaan Purging dan Breakout pada Kulit Wajah

Kehadiran maeun dakbal menunjukkan bahwa ceker ayam, yang sering dianggap sebagai bagian sederhana, dapat diolah menjadi sajian bernilai tinggi, baik dari segi rasa maupun makna budaya. 

 

Sumber: