Buka Puasa dengan Gorengan Setiap Hari? Ini Konsekuensinya
Buka Puasa dengan Gorengan Setiap Hari? Ini Konsekuensinya-Ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Gorengan telah lama menjadi sajian favorit masyarakat Indonesia, terutama ketika azan Magrib berkumandang sebagai penanda waktu berbuka puasa. Aroma khas dari makanan yang digoreng, teksturnya yang renyah, serta rasanya yang gurih memang terasa sangat menggoda setelah tubuh menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih 12 jam. Tidak heran jika bakwan, tahu isi, risoles, hingga pisang goreng kerap tersaji di meja makan.
Namun, di balik kenikmatannya, gorengan menyimpan sejumlah risiko kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.
Secara umum, makanan yang dimasak dengan metode penggorengan memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan yang direbus atau dikukus. Proses menggoreng membuat bahan makanan menyerap minyak, sehingga nilai energinya meningkat.
BACA JUGA:Mulut Tetap Segar Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap Perawatan Gigi yang Benar
BACA JUGA:7.000 Peserta PBI-JK Kembali Aktif, 2.000 Masih Proses
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, pernah menjelaskan bahwa satu buah gorengan dapat mengandung sekitar 100-150 kalori. Apabila seseorang mengonsumsi tiga buah sekaligus, maka asupan kalorinya bisa mencapai 300-400 kalori. Jumlah tersebut setara dengan aktivitas fisik berupa berlari sejauh kurang lebih lima kilometer atau berjalan di atas treadmill selama sekitar 15 menit bagi individu dengan berat badan sekitar 70 kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa kalori dari gorengan tidaklah sedikit dan membutuhkan upaya yang cukup besar untuk membakarnya.
Dari sisi kesehatan, ada beberapa penyakit yang berpotensi muncul akibat kebiasaan mengonsumsi gorengan secara berlebihan.
• Pertama adalah obesitas. Menurut KBBI, obesitas adalah keadaan tubuh yang memiliki kelebihan berat badan akibat penimbunan lemak yang berlebihan. Tingginya kandungan kalori dan lemak, khususnya lemak jenuh dan lemak trans pada gorengan, dapat menyebabkan surplus energi dalam tubuh. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai, berat badan akan meningkat dan berujung pada obesitas.
BACA JUGA: Mahasiswa Dikeroyok di Karang Anyar Curup, Pelaku Berjumlah 10 Orang
BACA JUGA: Sering Hapus Cache ? Ternyata Ini yang Terjadi di Dalam HP Anda !
• Kedua, risiko kanker. Makanan yang digoreng pada suhu tinggi berpotensi menghasilkan senyawa kimia bernama akrilamida. Akrilamida terbentuk melalui reaksi antara gula dan asam amino tertentu ketika makanan dipanaskan pada temperatur tinggi, seperti saat digoreng atau dipanggang. Sejumlah lembaga kesehatan internasional menyatakan bahwa akrilamida termasuk senyawa yang bersifat toksik dan diduga memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker apabila terpapar dalam jangka panjang dan jumlah besar. Oleh karena itu, membatasi konsumsi makanan yang digoreng merupakan langkah preventif yang bijaksana.
• Ketiga, penyakit jantung. Kandungan lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi dalam gorengan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Kondisi ini berpotensi memicu penumpukan plak pada dinding pembuluh darah (aterosklerosis), yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Tekanan darah pun dapat meningkat akibat pola makan tinggi lemak dan garam yang sering menyertai konsumsi gorengan.
• Keempat, diabetes tipe 2. Penelitian yang dilakukan oleh Shenzhen University Health Science Center menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi makanan yang digoreng secara rutin dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Pola makan tinggi kalori dan lemak dapat menyebabkan resistansi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi diabetes.
Meski demikian, bukan berarti gorengan harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya terletak pada pengendalian porsi dan frekuensi konsumsi. Mengombinasikan pola makan seimbang, memperbanyak asupan sayur dan buah, serta rutin berolahraga merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan. Selain itu, memilih metode memasak alternatif seperti memanggang atau menggunakan teknik air fryer dapat menjadi pilihan yang lebih sehat. Dengan kesadaran dan pengendalian diri, masyarakat tetap dapat menikmati gorengan tanpa mengabaikan prinsip hidup sehat.
Sumber: