Jam Kerja Terlalu Lama? Ini yang Bikin Angka Kelahiran Korsel Makin Merosot

Jam Kerja Terlalu Lama? Ini yang Bikin Angka Kelahiran Korsel Makin Merosot

Krisis angka kelahiran Korsel - sc/google foto--

CURUPEKSPRES.COM - Angka kelahiran di Korsel semakin khawatir salah satu penyebab utamanya adalah jam kerja yang terlalu panjang. Peneliti dari Gyeonggi Research Institute (GRI) menyarankan solusi yang bisa membantu, yaitu memangkas jam kerja mingguan jadi 35 jam. 

Menurut studi, budaya kerja yang menuntut jam kerja panjang membuat banyak pasangan muda engga membangun keluarga. Angka kelahiran di Korsel yang sudah sangat rendah, semakin terpuruk karena minimnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Saat ini aturan kerja di Korsel menetapkan batas maksimal 52 jam per minggu, yang terdiri dari 40 jam kerja standar ditambah 12 jam lembur. Sayangnya, hal ini dianggap masih terlalu berat, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. 

BACA JUGA:Populasi di Jepang Makin Anjlok, Angka Kelahiran Semakin Menurun

BACA JUGA:Angka Kelahiran Jepang Terus Menurun, PNS Hanya Bekerja 4 Hari dalam Seminggu

 

Dalam survei GRI tahun 2024 yang melibatkan 1000 pekerja berusia 20 hingga 59 tahun. Ditemukan bahwa jam kerja yang panjang menjadi hambatan terbesar dalam menyeimbangkan tanggung jawab keluarga, sebanyak 26,1% pria dan 24,6% wanita menyebutkan bahwa jam kerja berlebihan menjadi penghalang utama bagi mereka untuk membangun keluarga. 

Tak hanya itu , pasangan yang sudah menikah dan sama-sama bekerja menunjukkan keinginan terbesar untuk mengurangi jam kerja. Mereka berharap dapat mamangkas sekitar 84 sampai 87 menit dari waktu kerja mereka setiap hari agar lebih fokus pada kehidupan rumah tangga, yang pada akhirnya dampat berdampak positif pada angka kelahiran Korsel. 

BACA JUGA:Persiapan Penting Sebelum Kelahiran Anak

BACA JUGA:Benarkan Data Akta Kelahiran Bisa Dirubah

 

GRI merekomendasikan agar lembaga publik menjadi pelopor dalam mengurangi jam kerja mingguan , dan bahkan mempertimbangkan waktu perjalanan sebagai bagian dari jam kerja bersama. 

“Kesenjangan sekitar satu jam antara jam kerja aktual dan yang diinginkan paling signifikan diantra pasangan pekerja dengan anak-anak. Menurunkan jam kerja menjadi 35 jam merupakan langkah yang diperlukan,” Kata Yoo Jeong-gyun, seorang peneliti di GRI, dikutip dari South China Morning Post. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Korsel telah mencoba berbagai cara untuk meningkatkan angka kelahiran Korsel. Salah satunya adalah uji coba empat hari kerja seminggu provinsi Gyeonggi yang melibatkan lebih dari 50 organisasi. 

Sumber: