Sering Ganti Produk Skincare ? Hati-hati, Kulit Bisa Mengalami Cosmetic Abuse

 Sering Ganti Produk Skincare ? Hati-hati, Kulit Bisa Mengalami Cosmetic Abuse

Wajah Tanpa Skin Care Rahasia Kulit Sehat dan Cerah--

CURUPEKSPRESS.COM - Di era media sosial, perawatan kulit tidak lagi sekadar rutinitas pribadi, tetapi telah berubah menjadi tren yang masif dan sering kali kompetitif. Beragam konten skincare dengan janji hasil instan membanjiri lini masa, mendorong banyak orang untuk mencoba berbagai produk sekaligus atau bahkan meracik perawatan sendiri di rumah. Sayangnya, di balik tren tersebut, muncul fenomena yang justru merugikan kesehatan kulit, yaitu cosmetic abuse.

Penggunaan produk perawatan kulit secara berlebihan, ditambah maraknya tren DIY skincare, kini dinilai menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus kerusakan kulit. Banyak orang berharap mendapatkan kulit yang sehat, cerah, dan bercahaya dalam waktu singkat. Namun kenyataannya, alih-alih memperoleh hasil yang diinginkan, tidak sedikit yang justru mengalami iritasi, kemerahan, rasa perih, hingga kulit menjadi sensitif dalam jangka panjang.

Kondisi ini umumnya terjadi akibat terlalu sering bereksperimen dengan berbagai produk dan metode perawatan tanpa pemahaman yang memadai.

Fenomena tersebut dikenal sebagai cosmetic abuse dan kini menjadi salah satu keluhan yang paling sering ditemui oleh dokter spesialis kulit. Alih-alih membantu, kebiasaan ini justru membuat kulit bekerja ekstra keras menghadapi tumpukan bahan aktif yang masuk secara bersamaan.

Mengutip India TV, dokter spesialis kulit Dr. Ravali Yalamanchili menjelaskan bahwa penggunaan terlalu banyak produk sekaligus dapat memberikan tekanan besar pada lapisan pelindung alami kulit atau skin barrier. Padahal, skin barrier berfungsi penting untuk menjaga kelembapan, melindungi kulit dari bakteri, serta mencegah iritasi.

Menurut Dr. Ravali, kandungan aktif seperti retinoid, asam eksfoliasi, vitamin C, dan berbagai jenis eksfolian memang memiliki manfaat besar jika digunakan dengan tepat. Namun tanpa panduan medis, kesalahan dalam mengombinasikan produk atau menentukan frekuensi pemakaian justru dapat memicu pengelupasan berlebihan, kemerahan, iritasi, hingga munculnya jerawat yang semakin parah.

BACA JUGA: Biar Nggak Ribet, Ini Panduan Lengkap Urus Paspor dan Visa

BACA JUGA: Eksotis dan Tak Terduga ! 6 Destinasi Salju di Timur Tengah

"Kulit membutuhkan keseimbangan dan waktu untuk memperbaiki diri. Jika terus dipaksa dengan berbagai bahan aktif, pertahanan alaminya akan melemah," ujarnya.

Selain pemakaian kosmetik yang berlebihan, tren DIY skincare juga menjadi sorotan serius. Berbagai bahan dapur seperti air lemon, baking soda, pasta gigi, minyak esensial murni, hingga scrub buatan sendiri masih sering digunakan, meskipun berulang kali diperingatkan berisiko bagi kulit. Banyak orang menganggap bahan alami selalu aman, padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Bahan-bahan tersebut tidak dirancang untuk diaplikasikan langsung ke kulit dan berpotensi mengganggu keseimbangan pH alami. Tak jarang, dokter kulit menemui pasien dengan keluhan luka bakar ringan, hiperpigmentasi, hingga kulit kering berkepanjangan setelah mencoba perawatan yang dianggap "alami" dan aman.

Media sosial turut memperparah kondisi ini. Konten perawatan kulit dengan hasil instan mendorong banyak orang untuk meniru tanpa mempertimbangkan kecocokan dengan jenis kulit, kondisi lingkungan, atau riwayat masalah kulit masing-masing. Perubahan produk yang terlalu sering membuat kulit tidak memiliki waktu untuk beradaptasi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memicu tekstur kulit kasar, jerawat berulang, serta sensitivitas yang semakin sulit dikendalikan.

Bahaya lain dari cosmetic abuse adalah kerusakan yang tidak langsung terlihat. Over-eksfoliasi dan penyalahgunaan produk keras mungkin tampak aman pada awalnya. Namun seiring waktu, kondisi tersebut dapat memicu penuaan dini, pembuluh darah yang terlihat jelas, hingga gangguan skin barrier kronis. Proses pemulihannya pun tidak singkat dan dapat memakan waktu berbulan-bulan.

Sebagai solusi, Dr. Ravali menyarankan pendekatan perawatan kulit yang lebih sederhana dan realistis. Penggunaan pembersih lembut, pelembap, tabir surya, serta beberapa produk pilihan yang digunakan secara bertahap dinilai sudah mencukupi bagi kebanyakan orang. Masalah kulit yang menetap seperti jerawat, flek, atau iritasi sebaiknya dievaluasi secara medis, bukan ditutup dengan produk yang semakin keras atau perawatan rumahan tanpa dasar ilmiah.

Sumber: