Mengapa Orang Barat Pakai Tisu dan Orang Timur Pakai Air ? Ini Sejarah dan Alasannya
Mengapa Orang Barat Pakai Tisu dan Orang Timur Pakai Air ? Ini Sejarah dan Alasannya-ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Perbedaan cara membersihkan diri setelah buang air besar kerap menjadi perbincangan menarik dalam kajian lintas budaya. Topik yang tampak remeh ini sejatinya menyimpan cerita panjang tentang sejarah peradaban manusia, pengaruh lingkungan, hingga nilai-nilai budaya dan kepercayaan yang berkembang di berbagai belahan dunia. Secara umum, masyarakat Timur dikenal lebih akrab dengan air sebagai media cebok, sementara masyarakat Barat cenderung menggunakan tisu toilet.
Kebiasaan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Jauh sebelum tisu toilet diproduksi secara massal, manusia telah menggunakan beragam cara untuk membersihkan kotoran sesuai dengan kondisi alam dan kebiasaan setempat. Air, dedaunan, rumput, pasir, batu, bahkan tangan menjadi alat yang lazim digunakan pada masa lalu. Pilihan media pembersih ini sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya alam serta norma sosial yang berlaku di suatu wilayah.
Dalam catatan sejarah, masyarakat Romawi Kuno pada abad ke-6 sebelum Masehi diketahui menggunakan batu sebagai alat untuk cebok. Sementara itu, di kawasan Timur Tengah, penggunaan air telah menjadi bagian dari praktik kebersihan sejak lama karena selaras dengan ajaran agama yang menekankan kesucian dan kebersihan tubuh. Tradisi ini kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga menjadi kebiasaan yang mengakar kuat.
BACA JUGA: Honda Brio Satya S CVT Resmi Meluncur, Ini Daftar Harga Lengkap Mobil LCGC Januari 2026
BACA JUGA: Kenapa Ojol Butuh HP Khusus ? Ternyata Ini Alasan dan Spesifikasi yang Dibutuhkan
Menariknya, anggapan bahwa tisu toilet berasal dari dunia Barat ternyata tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan riset berjudul "Toilet Hygiene in the Classical Era" (2012), penggunaan tisu sebagai alat pembersih pertama kali tercatat di Tiongkok. Hal ini berkaitan erat dengan penemuan kertas yang memang berasal dari Negeri Tirai Bambu. Dari sanalah, kertas berkembang dan dimanfaatkan sebagai tisu untuk keperluan kebersihan.
Di Eropa dan Amerika, tisu toilet baru dikenal pada abad ke-16. Penulis Prancis, Francois Rabelais, menjadi tokoh awal yang menyinggung penggunaan tisu toilet dalam tulisannya. Namun, ia justru menilai tisu kurang efektif untuk membersihkan kotoran. Meski demikian, kebiasaan tersebut perlahan menyebar dan akhirnya menjadi praktik umum di wilayah Barat.
Lantas, mengapa tisu tetap digunakan secara luas, terutama di negara-negara beriklim dingin, meskipun efektivitasnya kerap dipertanyakan ?
Salah satu faktor utama adalah kondisi cuaca. Di wilayah bersuhu rendah, bersentuhan dengan air sering kali terasa tidak nyaman. Masyarakat di sana cenderung menghindari kontak langsung dengan air, baik saat mandi maupun cebok. Sebaliknya, masyarakat yang hidup di daerah tropis justru merasa lebih segar dan bersih setelah bersentuhan dengan air, bahkan bisa merasa gerah jika tidak menggunakannya.
Selain iklim, faktor budaya dan agama juga turut berperan. Di beberapa ajaran keagamaan, seperti Islam dan Hindu, penggunaan air untuk membersihkan diri setelah buang air besar merupakan bagian dari praktik kesucian. Hal ini semakin menguatkan kebiasaan cebok menggunakan air di wilayah Asia, Afrika, dan sebagian Eropa.
BACA JUGA: Mengapa Cokelat Terasa Menenangkan Saat Kita Sedang Stres ?
BACA JUGA: Yuk Kenalan dengan Camilan Tradisional Berbahan Tepung Kacang Hijau
CNN International juga melaporkan bahwa popularitas tisu toilet di wilayah non-tropis semakin meningkat seiring berkembangnya industri tisu, terutama setelah ditemukannya inovasi tisu gulung pada tahun 1890. Produksi massal membuat tisu mudah diakses dan menjadi bagian dari gaya hidup modern.
Di sisi lain, pola konsumsi masyarakat juga memengaruhi pilihan media cebok. Masyarakat Barat umumnya mengonsumsi makanan rendah serat, sehingga kotoran yang dihasilkan cenderung lebih sedikit dan kering. Kondisi ini memungkinkan pembersihan menggunakan tisu saja. Sebaliknya, masyarakat Asia dan Afrika lebih sering mengonsumsi makanan tinggi serat yang menghasilkan kotoran lebih banyak dan lembap, sehingga air menjadi pilihan yang lebih efektif.
Sumber: