Inilah Rahasia Mengenalkan Puasa pada Anak agar Tidak Jadi Beban

Inilah Rahasia Mengenalkan Puasa pada Anak agar Tidak Jadi Beban

Inilah Rahasia Mengenalkan Puasa pada Anak agar Tidak Jadi Beban-ist-

CURUPEKSPRESS.COM - Menjelang bulan suci Ramadhan, banyak orang tua menaruh harapan besar agar anak mulai belajar berpuasa. Momen ini sering dianggap sebagai tonggak penting dalam proses pendidikan agama anak. Namun, pengenalan puasa tidak dapat dilakukan secara seragam pada semua anak. Setiap tahap usia memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan pun perlu disesuaikan agar pengalaman berpuasa menjadi positif, menyenangkan, dan membangun, bukan justru menimbulkan tekanan.

Psikolog klinis anak dan remaja dari Universitas Padjadjaran, Mariska Johana H., M.Psi., menegaskan bahwa puasa sebaiknya dipahami sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak, bukan semata-mata kewajiban yang harus dipaksakan. Dalam pandangannya, puasa memiliki tiga dimensi penting, yakni latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang mengandung nilai spiritual dan manfaat kesehatan. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan idealnya diperkenalkan secara bertahap sesuai dengan usia dan kesiapan anak.

BACA JUGA: Whip Pink Viral karena Efek Nge-Fly, BNN Tegaskan Ancaman Seriusnya

BACA JUGA:Tips Aman Berkendara Motor Jarak Jauh agar Tetap Fokus dan Bugar

Pada usia prasekolah, sekitar tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir secara konkret dan sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional. Pada tahap ini, puasa belum dipahami sebagai kewajiban penuh, melainkan sebagai latihan sederhana untuk menunggu dan belajar bersabar. Anak dapat diajak mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang bersifat sementara, datang dan pergi, sehingga tidak selalu harus segera direspons dengan pemenuhan keinginan.

Nilai spiritual pada usia ini dikenalkan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan keseharian anak, misalnya dengan mengatakan bahwa usaha mencoba berpuasa merupakan perbuatan baik yang disukai Allah. Fokus utama orang tua bukan pada keberhasilan anak menyelesaikan puasa seharian penuh, melainkan pada terciptanya pengalaman berpuasa yang aman, hangat, dan memberi kesan positif.

Memasuki usia sekolah awal, sekitar tujuh hingga sembilan tahun, kemampuan berpikir anak mulai berkembang ke arah pemahaman sebab dan akibat. Pada fase ini, puasa dapat dijelaskan sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang memiliki nilai pahala. Anak mulai diajak memahami bahwa puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, serta memperbanyak perbuatan baik.

Nilai spiritual kemudian dikaitkan dengan perilaku konkret yang dapat dilakukan anak dalam keseharian, seperti bersikap sabar, membantu orang lain, dan mau berbagi. Selain itu, anak juga mulai diperkenalkan manfaat puasa bagi kesehatan tubuh, misalnya membantu mengatur pola makan dan membentuk kebiasaan hidup yang lebih teratur.

BACA JUGA: Tak Hanya Telur Ayam, Ini Alasan Telur Puyuh Cocok untuk MPASI

BACA JUGA: Lebih Tipis dan Lebih Kencang, Ini Bocoran Lengkap Samsung Galaxy A57

Pada usia sekolah akhir hingga awal remaja, sekitar 10 hingga 12 tahun ke atas, anak telah memiliki kemampuan berpikir reflektif yang lebih baik. Puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, serta tanggung jawab pribadi. Anak dapat diajak melihat puasa sebagai latihan yang menyeluruh, mulai dari menahan lapar, mengelola perasaan, menjaga pikiran, hingga memperkuat hubungan dengan Tuhan. Pada tahap ini, anak juga mulai memahami bahwa puasa berkontribusi pada kesehatan tubuh dan pembentukan kebiasaan hidup yang baik.

Untuk membantu anak memahami puasa secara utuh, Mariska menyarankan sejumlah strategi praktis. Orang tua dapat mengajak anak menonton film atau video edukatif bertema Ramadhan yang sesuai dengan usia, baik yang mengangkat kisah anak berpuasa, nilai spiritual, maupun manfaat kesehatan secara sederhana. Setelah menonton, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi melalui pertanyaan terbuka mengenai hal-hal yang dipahami dan dirasakan anak.

Selain itu, anak juga dapat dilibatkan dalam kegiatan keagamaan yang ramah anak, seperti dongeng Islami, kajian anak di masjid, atau kajian keluarga dengan durasi yang tidak terlalu panjang. Pendampingan orang tua tetap diperlukan untuk membantu menerjemahkan pesan utama agar tidak terasa berat atau membingungkan.

BACA JUGA: Waspada Bahaya Listrik Saat Banjir, Ini Imbauan dan Langkah Aman dari PLN

Sumber: