Tak Sekadar Masalah Ekonomi, Inilah Pengaruh Kemiskinan Struktural pada Psikologis Anak
Tak Sekadar Masalah Ekonomi, Inilah Pengaruh Kemiskinan Struktural pada Psikologis Anak-Ist-
CURUPEKSPRESS.COM - Kasus gangguan kesehatan mental pada anak selama ini kerap dipandang sebagai persoalan pribadi atau masalah internal keluarga. Ketika seorang anak menunjukkan gejala murung, menarik diri, atau kehilangan minat belajar, perhatian biasanya hanya tertuju pada pola asuh, dinamika rumah tangga, atau karakter anak itu sendiri. Padahal, terdapat faktor yang jauh lebih luas dan sering terabaikan dalam pembahasan, yaitu kemiskinan struktural.
Dilansir dari kompas.com, psikolog klinis anak Reti Oktania, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kemiskinan struktural berbeda dengan kesulitan ekonomi yang bersifat sementara. Kesulitan finansial sementara masih memungkinkan individu atau keluarga untuk bangkit ketika situasi membaik. Sebaliknya, dalam kemiskinan struktural, seseorang berada dalam sistem sosial dan ekonomi yang membatasi peluang untuk keluar dari keterpurukan, meskipun telah berupaya keras. Situasi ini menciptakan lingkaran keterbatasan yang sulit diputus.
Menurut Reti, ketika orang tua sudah bekerja keras dan melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi hasilnya tetap tidak mencukupi, muncul perasaan tidak berdaya.
BACA JUGA:Bocoran Harga Infinix Note 60 Pro Terungkap, Ini Jadwal Rilis dan Fitur Andalannya
Kondisi psikologis tersebut tidak hanya dialami orang dewasa, melainkan juga dapat dirasakan oleh anak-anak. Anak hidup dan tumbuh dalam atmosfer emosional keluarganya. Mereka menyerap kecemasan, ketegangan, dan ketidakpastian, sekalipun tidak pernah diberi penjelasan secara langsung mengenai kondisi keuangan keluarga.
Masih banyak orang tua beranggapan bahwa anak tidak akan terdampak selama persoalan ekonomi tidak dibicarakan secara terbuka. Namun, pandangan ini kurang tepat. Anak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan suasana di rumah. Mereka mampu menangkap ekspresi wajah, nada bicara, hingga kebiasaan yang berubah. Ketika rasa aman terganggu, dampaknya dapat menjalar pada kesehatan mental anak.
Kemiskinan struktural juga berdampak pada terbatasnya akses terhadap kebutuhan dasar, seperti pendidikan, layanan kesehatan, serta fasilitas penunjang belajar. Anak yang tidak memiliki perlengkapan sekolah memadai atau tidak dapat mengikuti kegiatan tambahan sering kali merasa berbeda dari teman-temannya. Perasaan terpinggirkan ini dapat berkembang menjadi beban psikologis. Tidak jarang anak menyalahkan diri sendiri dan merasa menjadi beban keluarga.
BACA JUGA:Dua Mantan Pejabat Rejang Lebong Diperiksa Jaksa Terkait Kasus Ini
BACA JUGA:Air Rebusan Ini Penakluk Insomnia!
Reti memaparkan bahwa terdapat empat perasaan utama yang rentan muncul pada anak dalam kondisi tekanan sosial-ekonomi berat. Pertama, perasaan tidak berharga (worthlessness), yaitu keyakinan bahwa dirinya tidak berarti atau hanya menambah masalah keluarga. Kedua, rasa kesepian (loneliness), meskipun secara fisik berada di tengah keluarga. Kesepian ini dapat diperparah oleh stigma sosial atau perundungan. Ketiga, keputusasaan (hopelessness), yakni pandangan bahwa masa depan tidak menjanjikan dan usaha apa pun tidak akan mengubah keadaan. Keempat, ketidakberdayaan (helplessness), ketika anak merasa sudah mencoba beradaptasi, tetapi tetap tidak menemukan jalan keluar.
Apabila kondisi emosional tersebut berlangsung lama tanpa pendampingan, risiko gangguan mental semakin meningkat. Depresi, yang sering kali dikaitkan dengan orang dewasa, juga dapat dialami anak-anak, termasuk usia sekolah dasar. Gejalanya meliputi kesedihan berkepanjangan, kehilangan minat bermain atau belajar, penarikan diri dari lingkungan sosial, hingga muncul rasa bersalah yang berlebihan. Dalam konteks kemiskinan struktural, depresi dapat berkembang karena kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi, sementara mereka belum memiliki kapasitas untuk mengubah situasi tersebut.
Pada fase perkembangan, anak seharusnya berada dalam lingkungan yang memberikan rasa aman dan dukungan agar dapat tumbuh secara optimal. Ketika rasa aman terganggu oleh tekanan ekonomi yang berkepanjangan, perkembangan emosional dan sosial anak menjadi rentan. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk tidak membebankan kecemasan finansial kepada anak. Pengenalan konsep uang dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia, tetapi anak tidak seharusnya merasa bertanggung jawab atas kondisi ekonomi keluarga.
Lebih jauh, persoalan kemiskinan struktural tidak dapat diselesaikan hanya pada tingkat keluarga. Diperlukan peran negara untuk memastikan terpenuhinya hak-hak dasar anak, seperti akses pendidikan dan layanan kesehatan yang layak. Selain itu, lingkungan sosial memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan empati, bukan menghakimi. Sikap sederhana, seperti menyapa dan memberikan dukungan tanpa komentar negatif, dapat membantu mengurangi beban psikologis keluarga yang sedang menghadapi kesulitan.
Sumber: