Puasa Tanpa Drama! Inilah Strategi Menjaga Keseimbangan Emosi Selama Ramadan

Puasa Tanpa Drama! Inilah Strategi Menjaga Keseimbangan Emosi Selama Ramadan

Puasa Tanpa Drama! Inilah Strategi Menjaga Keseimbangan Emosi Selama Ramadan--

CURUPEKSPRESS.COM - Dokter Spesialis Kejiwaan (Psikiater) Revit Jayanti membagikan sejumlah kiat menjaga kesehatan mental selama bulan Ramadan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan hati yang tenang dan emosi yang lebih terkendali. Menurutnya, Ramadan pada hakikatnya menghadirkan keberkahan dan ketenteraman batin. Namun, perubahan pola hidup yang cukup signifikan selama bulan puasa tetap dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis seseorang. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan strategi yang tepat agar keseimbangan mental tetap terjaga.

Pada awal Ramadan, tubuh mengalami proses adaptasi. Perubahan pola makan dari tiga kali sehari menjadi hanya pada waktu sahur dan berbuka, serta perubahan jam tidur akibat ibadah malam, membuat tubuh bekerja menyesuaikan diri. Secara neurologis, ketika seseorang tidak makan selama beberapa jam, kadar gula darah menurun sehingga tubuh lebih mudah merasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan lebih sensitif secara emosional. Selain itu, perubahan pola tidur dapat meningkatkan kadar kortisol atau hormon stres pada masa-masa awal puasa.

Di sisi lain, puasa juga memberikan manfaat biologis melalui proses autophagy, yaitu proses pembersihan dan peremajaan sel, termasuk sel otak. Proses ini mendukung perlindungan serta perbaikan sel saraf dan dapat meningkatkan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), yang berperan penting dalam fungsi kognitif dan regulasi emosi.

BACA JUGA: Ramadan Tiba, Pemkab Rejang Lebong Sikat Tempat Hiburan Malam yang Bandel

BACA JUGA: Stok Sembako Rejang Lebong Dipastikan Aman, Warga Diminta Tak Panik Jelang Ramadhan

Artinya, jika dijalani dengan pola yang sehat, puasa justru dapat mendukung kesehatan mental dalam jangka panjang.

Agar kesehatan mental tetap stabil selama Ramadan, berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan :

1. Mengakui dan memvalidasi emosi.

Langkah pertama adalah menyadari bahwa rasa lelah, mudah tersinggung, atau perubahan suasana hati merupakan hal yang wajar. Mengakui perasaan tersebut bukanlah tanda kelemahan. Justru, kemampuan mengenali dan memahami emosi merupakan bentuk kedewasaan psikologis. Ketika emosi muncul, cobalah bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang saya rasakan? Mengapa perasaan ini muncul? Banyak orang kesulitan mengenali emosinya karena sejak kecil terbiasa diminta menahan atau mengabaikan perasaan. Oleh sebab itu, belajar memvalidasi emosi menjadi langkah penting. Jika memungkinkan, berbicaralah dengan orang yang dipercaya. Namun, refleksi diri atau berdialog secara positif dengan diri sendiri juga dapat menjadi alternatif yang efektif.

BACA JUGA:Veda Ega Pratama Curi Perhatian

BACA JUGA: Uji Coba di F1 Bahrain, Mercedes Alami Masalah Teknis

2. Mengelola energi melalui pola tidur dan pola makan.

Selama Ramadan, yang perlu diatur bukan hanya waktu, tetapi juga energi. Pastikan kebutuhan tidur tetap terpenuhi meskipun jadwal berubah. Hindari begadang tanpa keperluan yang mendesak. Konsumsi makanan bergizi seimbang saat sahur dan berbuka agar kadar gula darah lebih stabil. Asupan yang cukup membantu menjaga konsentrasi dan kestabilan emosi. Dengan energi yang terkelola baik, tubuh dan pikiran lebih siap menjalani aktivitas harian.

3. Menerapkan teknik relaksasi dan pengendalian diri.

Sumber: