Kemenhaj Siapkan Klinik di Madinah, Jemaah Haji Diminta Waspada Penyakit dan Dehidrasi

Kemenhaj Siapkan Klinik di Madinah, Jemaah Haji Diminta Waspada Penyakit dan Dehidrasi

Kemenhaj Siapkan Klinik di Madinah, Jemaah Haji Diminta Waspada Penyakit dan Dehidrasi-Ist-

 

CURUPEKSPRESS.COM - Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia terus dilakukan secara berkelanjutan, terutama pada fase awal kedatangan di Madinah. Pemerintah melalui Kementerian haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) tahun ini mengambil langkah strategis dengan menghadirkan sistem layanan kesehatan yang lebih dekat, cepat, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah.

Berdasarkan laporan lapangan pada Selasa (21/4/2026), Kemenhaj telah menyiapkan klinik kesehatan di setiap sektor wilayah Madinah. Kebijakan ini bertujuan mempercepat penanganan gangguan kesehatan yang dialami jemaah sejak hari-hari pertama kedatangan di Tanah Suci, sekaligus meminimalkan risiko kondisi yang lebih serius.

Langkah tersebut menjadi sangat penting mengingat profil kesehatan jemaah haji Indonesia yang didominasi oleh kelompok usia lanjut dengan riwayat penyakit kronis. Data dari penyelenggaraan haji beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar jemaah memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, serta gangguan pernapasan seperti pneumonia.

Kondisi ini membuat jemaah lebih rentan terhadap perubahan lingkungan dan kelelahan fisik.

Selain faktor medis bawaan, kondisi cuaca di Madinah juga menjadi tantangan signifikan. Perbedaan iklim antara Indonesia yang beriklim tropis lembap dengan Arab Saudi yang beriklim kering dan panas ekstrem menuntut adaptasi yang tidak mudah.

Saat ini, suhu udara di Madinah berkisar antara 29 hingga 30 derajat Celsius dan diprediksi akan meningkat hingga mencapai 37 derajat Celsius seiring peralihan musim dingin ke musim panas.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heatstroke), terutama bagi lansia dan individu dengan penyakit kronis.

Oleh karena itu, kesiapan fisik dan kesadaran menjaga kesehatan menjadi kunci utama dalam menjalankan ibadah haji dengan aman.

Sebagian besar aktivitas jemaah di Madinah dilakukan di luar ruangan, seperti ibadah di Masjid Nabawi dan ziarah ke berbagai lokasi bersejarah. Aktivitas ini membutuhkan stamina yang baik serta perlindungan terhadap paparan sinar matahari langsung.

Tanpa persiapan yang memadai, jemaah berisiko mengalami gangguan kesehatan yang dapat menghambat pelaksanaan ibadah.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah memperkuat sistem layanan kesehatan berbasis sektor. Dengan adanya klinik di setiap wilayah, jemaah dapat memperoleh pertolongan medis dengan lebih cepat dan efisien. Selain itu, tenaga kesehatan juga disiagakan di setiap hotel untuk memberikan pelayanan awal apabila terjadi keluhan kesehatan.

Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Daerah Kerja Madinah, dr. Enny Nuryanti, menegaskan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam menjaga kesehatan jemaah. Ia mengimbau agar jemaah disiplin dalam memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan mengonsumsi air putih secara rutin, minimal 200 mililiter setiap jam, tanpa menunggu rasa haus.

Selain itu, jemaah juga dianjurkan untuk menjaga pola istirahat dengan tidur cukup antara 6 hingga 8 jam per hari. Pola makan sehat dengan asupan gizi seimbang juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Penggunaan alat pelindung seperti payung, topi, atau kacamata hitam dapat membantu mengurangi dampak paparan sinar matahari langsung.

Sumber: