Rapper Jangkung

Senin 11-07-2022,18:03 WIB
Editor : SARI APRIYANTI

Di tengah kegembiraan itu serangkaian bunyi bang! bang! bang! menggema. Banyak yang mengira itu suara mercon –untuk ikut memeriahkan parade.

Ternyata beberapa peserta parade tersungkur. Bersimbah darah. Panik. Teriakan mulai bersahutan: penembakan! penembakan!

Mulailah kepanikan. Mereka lari ke mana pun bisa berlari. Atau bersembunyi di bawah-bawah meja. Mobil hias dan ke emperan toko. 

Tidak satu pun ada yang tahu dari mana arah tembakan itu. Dari depan? Belakang? Samping? Tidak jelas. Pokoknya lari.

Tidak semua lari. Yang naluri menolongnya tinggi, langsung menggotong yang roboh. Dinaikkan mobil. Dibawa ke RS. Tertinggal satu anak kecil berumur 2 tahun itu.

Ternyata tembakan itu tidak dari muka, samping atau belakang. Tembakan itu dari atas. Yakni dari atap bangunan di jalan utama kota Highland Park.

Pelakunya, itu tadi, anak berumur 21 tahun. Ia menggunakan senjata laras panjang semiotomatis: Smith & Wesson M&P15. Tidak sama, tapi sejenis dengan yang digunakan remaja 21 tahun yang menembaki anak-anak SD di Uvalde, Texas bulan lalu.

Si remaja di Highland Park tidak mengincar siapa pun. Semua saja. 

 

Sebanyak 30 peluru ia muntahan dari senjata itu. Ia pasang lagi rangkaian peluru berikutnya. Ia muntahan lagi. Semua 60 peluru. Habis. Lalu turun tergesa-gesa dari atap. Juga lewat tangga darurat di belakang bangunan.

 

Nama remaja itu: Robert Crimo Jr. Nama lengkapnya: Robert Bobby Crimo III. Ia tinggal di sebuah apartemen milik bapaknya di tengah kota itu. Di sana, anak umur 21 tahun sudah malu tinggal bersama orang tua.

 

Crimo membeli senjata itu secara sah. Ia memenuhi syarat untuk membeli senjata seperti itu. 

 

Ayahnya ikut memberikan rekomendasi saat Crimo membeli senjata. Sang ayah bukan orang biasa. Ia terkenal di kota kecil itu. Dalam Pilwali tahun 2019, sang Ayah maju sebagai calon wali kota. Ia kalah oleh Nancy Rotering –calon dari Partai Demokrat yang maju lagi untuk periode ketiga.

Tags :
Kategori :

Terkait