CURUPEKSPRESS.COM - Krisis angka kelahiran Korsel semakin parah, menyebabkan banyak sekolah di negara tersebut terpaksa menutup operasionalnya. Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Korea Selatan, sebanyak 49 sekolah akan ditutup tahun ini. Dari jumlah tersebut, sekitar 28% atau 43 sekolah berada di wilayah wilayah yang jauh dari ibukota Seoul.
Fenomena ini menjadi yang terburuk dalam lima tahun terakhir, sebagai perbandingan pada 2020 jumlah sekolah yang tutup mencapai 33, kemudian turun menjadi 24 pada 2021, 25 pada 2022, 22 pada 2023, dan kembali naik menjadi 33 pada 2004, angka tersebut melonjak drastis, seiring dengan angka kelahiran di Korsel.
BACA JUGA:Deretan Film Korea Terbaru 2025, dari Thriller Hingga Romansa
BACA JUGA:Populasi di Jepang Makin Anjlok, Angka Kelahiran Semakin Menurun
Menurut laporan Korea times, tidak ada sekolah di Seoul yang terkena dampak langsung. Namun provinsi Jeolla Selatan menjadi daerah dengan penutupan sekolah terbanyak yakni 10 sekolah.
Disusul Provinsi Chungcheong dengan 9 sekolah, Provinsi Jeolla Utara dengan 8 sekolah, Provinsi Gangwon dengan 7 sekolah, Provinsi Gyeonggi dengan 6 sekolah, serta Busan dan Daegu masing-masing dengan 2 dan 1 sekolah yang tutup.
Dari segi pendidikan sekolah dasar menjadi yang paling terdampak, sebanyak 38 dari 49 sekolahnya merupakan sekolah dasar. Sementara 8 sekolah menengah pertama dan tiga sekolah menengah atas juga terpaksa menghentikan operasionalnya.
BACA JUGA:Jadwal Pembelajaran Di Sekolah Saat Ramadhan Lebih Singkat
Masalah ini semakin serius, mengingat pada tahun lalu saja, ada 112 sekolah dasar di Korsel yang tidak menerima siswa baru, akibat minimnya angka kelahiran Korsel. Tren ini menunjukkan bahwa lebih banyak sekolah lain yang beresiko mengalami nasib serupa dalam waktu dekat.
Data kementerian per-April lalu mencatat bahwa Provinsi Jeolla menjadi daerah dengan jumlah sekolah tanpa murid baru terbanyak, yaitu 34 sekolah dasar. Diikuti Provinsi Gyeongsang Utara 17 sekolah, Provinsi Gyeongsang Selatan dengan 16 sekolah, Provinsi Jeolla selatan masing-masing 12 sekolah, serta provnisi Gangwon dengan 11 sekolah yang tidak menerima siswa baru.
Melihat kondisi ini, jumlah sekolah yang tutup diprediksi akan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan, seiring dengan semakin mengkhawatirkan nya angka kelahiran Korsel yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.