Meski keberadaan mikroplastik telah terdeteksi secara luas, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia masih terus diteliti. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam mengukur dan melacak partikel yang sangat kecil tersebut di jaringan tubuh.
Namun, para ilmuwan sepakat bahwa paparan mikroplastik dalam jumlah besar dan berkelanjutan patut diwaspadai.
Dengan bantuan teknologi pencitraan beresolusi tinggi, peneliti menemukan bahwa permukaan bagian dalam gelas plastik murni cenderung kasar dan dipenuhi celah mikro. Kondisi ini memudahkan partikel plastik terlepas, terutama ketika terpapar panas.
Suhu tinggi membuat plastik melunak, mengembang, lalu menyusut kembali, sehingga mempercepat pembentukan fragmen mikroplastik yang larut ke dalam minuman.
Meskipun demikian, kebiasaan minum kopi tidak harus dihentikan sepenuhnya. Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan mikroplastik, seperti menggunakan tumbler pakai ulang berbahan kaca, keramik, atau baja tahan karat. Jika terpaksa menggunakan wadah sekali pakai, gelas kertas berlapis plastik dinilai lebih baik dibandingkan gelas plastik murni.
Selain itu, menghindari menuangkan cairan yang terlalu panas dan memilih kopi dengan suhu hangat juga dapat menjadi alternatif yang lebih aman.
BACA JUGA:Desa di Rejang Lebong Prioritaskan Dana Desa Tahap I untuk Penanganan Stunting
BACA JUGA: Segini Tunggakan PBB di Rejang Lebong, Infonya Tembus Rp1,2 Miliar
Dengan meningkatkan kesadaran dan mengubah kebiasaan secara bertahap, masyarakat dapat tetap menikmati kopi favoritnya tanpa mengabaikan aspek keselamatan jangka panjang.