CURUPEKSPRESS.COM - Ubi racun, yang dikenal sebagai singkong pahit dengan nama ilmiah Manihot glaziovii, merupakan salah satu varietas singkong yang memiliki karakteristik khusus sekaligus risiko kesehatan. Berbeda dengan singkong manis yang umum dikonsumsi masyarakat Indonesia, jenis ini mengandung kadar senyawa sianogenik yang jauh lebih tinggi. Informasi mengenai bahaya dan cara pengolahannya juga pernah dibahas secara edukatif oleh Halodoc sebagai bagian dari literasi kesehatan masyarakat.
Secara alami, ubi racun memproduksi glikosida sianogen, yakni senyawa yang dapat melepaskan sianida ketika umbi dikunyah, dihancurkan, atau dicerna tanpa pengolahan yang tepat. Sianida merupakan zat beracun yang dapat mengganggu sistem pernapasan sel dalam tubuh. Konsentrasi tertinggi senyawa ini umumnya terdapat pada bagian kulit dan lapisan luar umbi. Inilah yang menjadi pembeda utama antara ubi racun dan singkong manis, karena kadar glikosida sianogen pada ubi racun jauh lebih besar.
BACA JUGA:Makanan Ini Perlu Dihindari Selama Puasa, Apa Saja?
BACA JUGA:Aneka Jus Ini Bisa Menurunkan Kadar Gula Darah
• Ciri-Ciri dan Potensi Bahaya
Kandungan sianida yang tinggi menjadi ciri paling menonjol dari ubi racun. Ketika glikosida sianogen bereaksi dengan enzim tertentu, senyawa tersebut dapat terurai menjadi sianida aktif. Apabila dikonsumsi tanpa proses pengolahan yang benar, kondisi ini berisiko menimbulkan keracunan.
Gejala keracunan sianida dapat meliputi pusing, mual, muntah, sesak napas, hingga gangguan kesadaran. Dalam kasus berat, paparan sianida dapat membahayakan jiwa. Risiko ini tidak hanya mengancam manusia, tetapi juga hewan ternak yang mengonsumsi ubi racun tanpa pengolahan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa tidak semua jenis singkong aman dikonsumsi secara langsung.
• Proses Detoksifikasi agar Aman Dikonsumsi
Walaupun berpotensi berbahaya, ubi racun tetap dapat dimanfaatkan asalkan melalui tahapan pengolahan yang benar. Proses ini bertujuan untuk menurunkan kadar sianida hingga berada dalam batas aman. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan secara cermat:
1. Mengupas kulit hingga bersih
Bagian kulit dan lapisan luar umbi mengandung konsentrasi sianida paling tinggi. Pengupasan harus dilakukan secara menyeluruh hingga tidak tersisa bagian kulit maupun lapisan tipis berwarna pucat.
BACA JUGA:Khasiat Puasa Bagi Penderita Maag
BACA JUGA:Khasiat Konsumsi Kurma Selama Ramadan
2. Merendam dalam air mengalir atau air garam