BACAKORANCURUP.COM - Berolahraga ketika sedang menahan lapar dan haus, seperti pada saat menjalankan ibadah puasa, sering menjadi pilihan bagi banyak orang yang ingin tetap menjaga kebugaran. Pada dasarnya, aktivitas fisik dalam kondisi tersebut diperbolehkan dan relatif aman bagi individu yang sehat. Namun, pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh, jenis latihan, serta durasi yang dipilih agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan.
Selama berpuasa, tubuh tidak memperoleh asupan makanan dan minuman dalam rentang waktu tertentu. Akibatnya, cadangan energi yang berasal dari karbohidrat akan berangsur-angsur menurun. Ketika kadar gula darah menurun, tubuh dapat terasa lemas, kurang bertenaga, bahkan sulit berkonsentrasi.
Dalam kondisi seperti ini, olahraga yang terlalu berat berisiko memperparah kelelahan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa tujuan utama berolahraga saat puasa bukanlah untuk meningkatkan performa secara maksimal, melainkan untuk menjaga kebugaran dan mempertahankan kebiasaan hidup aktif.
BACA JUGA: Kemenag Rejang Lebong Tetapkan Nominal Zakat Fitrah, Termurah Rp 30 Ribu
BACA JUGA:Telur Rebus Makanan Sederhana yang Mudah Diolah
Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi. Tubuh manusia sebagian besar terdiri atas cairan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan suhu, sirkulasi darah, serta fungsi organ. Ketika berolahraga, tubuh mengeluarkan keringat sebagai mekanisme alami untuk mengatur suhu. Jika hal ini terjadi tanpa diimbangi asupan cairan, terutama pada cuaca panas, tubuh dapat kehilangan cairan dan elektrolit lebih cepat. Gejala dehidrasi dapat berupa rasa haus berlebihan, pusing, lemas, hingga penurunan tekanan darah.
Selain itu, olahraga dalam keadaan perut kosong juga dapat memengaruhi metabolisme otot. Saat cadangan energi menipis, tubuh akan mencari sumber energi alternatif. Dalam kondisi tertentu, jaringan otot dapat diuraikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Jika berlangsung terus-menerus tanpa pengaturan yang tepat, hal ini tentu tidak mendukung tujuan pembentukan massa otot. Aktivitas fisik saat lambung kosong dalam waktu lama juga berpotensi meningkatkan produksi asam lambung, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, perih, atau mual.
Agar olahraga tetap aman dan bermanfaat, pemilihan jenis latihan menjadi hal yang penting. Latihan dengan intensitas ringan hingga sedang lebih dianjurkan, seperti berjalan kaki, peregangan, yoga, jogging santai, atau bersepeda ringan. Aktivitas tersebut membantu menjaga kebugaran jantung dan otot tanpa membebani tubuh secara berlebihan.
BACA JUGA:Air Kelapa Ternyata Tidak Lebih dari Menyegarkan Dahaga
BACA JUGA:Penyebab Kanker Usus Besar, Salah Satunya Ini
Sebaliknya, latihan dengan intensitas tinggi, seperti latihan interval berintensitas tinggi (HIIT), sebaiknya dihindari karena memerlukan energi dan cairan dalam jumlah besar.
Durasi olahraga pun perlu diperhatikan. Waktu yang ideal berkisar antara 30 hingga 60 menit. Durasi ini dinilai cukup untuk menjaga kebugaran tanpa menyebabkan kelelahan yang berlebihan. Selain itu, pengaturan waktu juga berperan penting. Banyak ahli menyarankan olahraga dilakukan menjelang waktu berbuka puasa atau setelah berbuka dengan jeda yang cukup setelah mengonsumsi makanan ringan. Dengan demikian, tubuh segera memperoleh asupan cairan dan nutrisi setelah aktivitas selesai.
Hal yang tidak kalah penting adalah mengenali sinyal tubuh. Jika muncul gejala seperti pusing, pandangan berkunang-kunang, sesak napas, jantung berdebar tidak wajar, atau kelemahan yang berlebihan, olahraga harus segera dihentikan. Memaksakan diri justru dapat meningkatkan risiko cedera dan gangguan kesehatan lainnya. Setiap individu memiliki kondisi fisik yang berbeda, sehingga tidak bijak menyamakan kemampuan diri dengan orang lain.
Dengan perencanaan yang tepat, aktivitas fisik tidak hanya membantu menjaga kebugaran, tetapi juga mendukung keseimbangan tubuh selama menjalani ibadah puasa. Berolahraga saat menahan lapar dan haus bukanlah hal yang terlarang, tetapi harus dilakukan secara terukur, aman, dan bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal tanpa menimbulkan risiko kesehatan.