Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa kebijakan WFH satu hari dalam sepekan berpotensi menghemat konsumsi BBM masyarakat hingga Rp59 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola kerja dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar, terutama dalam menekan pengeluaran energi rumah tangga dan nasional.
Selain aspek ekonomi, sejumlah penelitian dari lembaga internasional seperti International Labour Organization juga menunjukkan bahwa sistem kerja fleksibel, termasuk WFH, dapat meningkatkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance). Hal ini berpotensi meningkatkan kepuasan kerja serta kesehatan mental pekerja, selama didukung dengan manajemen kerja yang baik.
Dengan tetap menjaga hak pekerja, produktivitas perusahaan, serta memberikan pengecualian bagi sektor tertentu, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan sistem kerja yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada komitmen perusahaan dan kedisiplinan pekerja dalam menjalankan tanggung jawabnya.