Bukan Sekadar Drama, Ini Alasan Ilmiah Pria Terlihat Lebih Menderita Saat Sakit

Bukan Sekadar Drama, Ini Alasan Ilmiah Pria Terlihat Lebih Menderita Saat Sakit

Bukan Sekadar Drama, Ini Alasan Ilmiah Pria Terlihat Lebih Menderita Saat Sakit-Ist-

 

 

CURUPEKSPRESS.COM - Anggapan bahwa pria cenderung lebih "heboh" ketika sakit, lebih sering mengeluh, terdengar manja, atau tampak berlebihan sudah lama beredar di tengah masyarakat. Fenomena ini bahkan melahirkan istilah populer man flu, yaitu sebutan informal untuk menggambarkan kondisi ketika pria dianggap bereaksi lebih dramatis saat mengalami flu atau infeksi ringan. Namun, benarkah semua itu sekadar stereotip? Ataukah ada dasar ilmiah yang dapat menjelaskan perbedaan respons antara pria dan wanita ketika sakit?

Beberapa kajian ilmiah menunjukkan bahwa perbedaan tersebut tidak semata-mata persoalan sikap atau pencarian perhatian. Mengutip laporan dari New Atlas, sejumlah penelitian menemukan bahwa pria memang cenderung melaporkan gejala penyakit dengan tingkat keparahan sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Medical Journal juga menyebutkan bahwa pria melaporkan gejala sekitar enam persen lebih berat daripada wanita pada kondisi yang sebanding. Meski persentasenya tidak terlalu besar, temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan yang konsisten.

Salah satu faktor utama yang diduga berperan adalah perbedaan hormon. Pada wanita, hormon estrogen diketahui memiliki efek protektif terhadap sistem imun. Estrogen dapat meningkatkan respons kekebalan tubuh sehingga membantu melawan infeksi secara lebih efektif. Sebaliknya, testosteron, yakni hormon yang dominan pada pria memiliki efek imunosupresif, yakni cenderung menekan respons sistem kekebalan. Akibatnya, pria berpotensi lebih rentan terhadap infeksi dan mengalami gejala yang terasa lebih berat. Perbedaan biologis ini menjadi salah satu penjelasan mengapa respons tubuh pria terhadap virus tertentu bisa lebih intens.

Selain faktor hormonal, respons imun bawaan juga menunjukkan variasi antara pria dan wanita. Tubuh wanita umumnya menghasilkan interferon alfa (IFN-α) dalam jumlah lebih besar. Protein ini berperan penting dalam melawan virus pada tahap awal infeksi. Produksi interferon yang lebih optimal memungkinkan tubuh wanita menghambat perkembangan virus secara lebih cepat. Di samping itu, wanita cenderung memiliki lebih banyak antibodi serta sel memori CD8+T, yaitu sel imun yang membantu mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi. Kombinasi faktor tersebut membuat sistem pertahanan tubuh wanita relatif lebih responsif.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah beban virus atau viral load. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika terinfeksi virus yang sama, pria dapat memiliki jumlah virus lebih tinggi dalam tubuhnya dibandingkan wanita. Beban virus yang lebih besar tentu dapat memicu gejala yang lebih nyata, seperti demam tinggi, nyeri otot, atau kelelahan ekstrem. Dengan kata lain, keluhan yang terdengar "berlebihan" bisa jadi merupakan cerminan dari kondisi biologis yang memang lebih berat.

Namun demikian, faktor psikologis dan sosial juga berkontribusi. Dalam banyak budaya, pria sering didorong untuk tampil kuat dan tidak menunjukkan kelemahan. Ketika sakit, kondisi tersebut bisa menjadi satu-satunya momen di mana mereka merasa "diizinkan" untuk mengekspresikan ketidaknyamanan secara terbuka. Di sisi lain, wanita cenderung lebih terbiasa menghadapi rasa tidak nyaman, misalnya saat menstruasi atau proses persalinan, sehingga memiliki toleransi yang berbeda terhadap rasa sakit. Perbedaan pengalaman hidup ini dapat memengaruhi cara seseorang merespons dan mengomunikasikan gejala yang dirasakan.

Meski demikian, penting untuk tidak menyederhanakan fenomena ini menjadi sekadar bahan candaan atau pelabelan negatif. Setiap individu memiliki ambang nyeri, kondisi kesehatan, dan respons imun yang berbeda. Tidak semua pria bereaksi berlebihan ketika sakit, dan tidak semua wanita lebih tahan terhadap rasa sakit. Ilmu kedokteran modern pun terus meneliti perbedaan biologis berbasis jenis kelamin guna meningkatkan pendekatan terapi yang lebih personal dan efektif.

Oleh karena itu, alih-alih memandangnya sebagai sikap berlebihan semata, lebih bijak jika fenomena ini dipahami sebagai hasil interaksi antara aspek biologis, psikologis, dan sosial. Dengan pemahaman yang tepat, kita dapat lebih empatik dan objektif dalam menyikapi perbedaan respons kesehatan pada setiap individu. 

 

 

Sumber: