Popularitas Jamu Meningkat, Minuman Herbal Indonesia Ini Jadi Sorotan Dunia
Popularitas Jamu Meningkat, Minuman Herbal Indonesia Ini Jadi Sorotan Dunia--
IST
Jamu, minuman khas Indonesia yang mendunia.
CURUPEKSPRESS.COM - Jamu, minuman herbal tradisional khas Indonesia, kembali menjadi perbincangan hangat. Kali ini, sorotan tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari media internasional. Jamu kini dikenal sebagai tonik alami berbasis rempah yang mulai mendapat tempat di berbagai negara, khususnya di Amerika Serikat.
Minuman yang umumnya diracik dari bahan alami seperti kunyit, jahe, asam, dan serai ini telah dikenal masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Jamu bukan sekadar minuman penyegar atau pelengkap gaya hidup sehat, melainkan bagian dari tradisi, budaya, dan sejarah panjang Nusantara.
Dalam perkembangannya, tren global wellness yang menekankan penggunaan bahan alami mendorong jamu semakin diminati oleh masyarakat dunia. Sejumlah kafe modern dan restoran di luar negeri mulai menghadirkan jamu dengan sentuhan kontemporer, tanpa meninggalkan karakter aslinya. Hal ini menunjukkan bahwa jamu mampu beradaptasi dengan selera zaman sekaligus mempertahankan nilai tradisionalnya.
Secara definisi, jamu adalah minuman herbal tradisional Indonesia yang dibuat dari berbagai rempah dan akar tanaman. Berdasarkan catatan sejarah, jamu telah dikenal lebih dari 1.300 tahun lalu. Pada masa lampau, jamu diyakini berasal dari lingkungan keraton sebagai ramuan khusus untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan umur panjang para bangsawan.
Hingga kini, fungsi jamu tetap relevan. Masyarakat Indonesia masih mengonsumsinya sebagai penambah stamina, penjaga daya tahan tubuh, serta minuman pendukung pemulihan kesehatan. Ibu Lilik, herbalis generasi ketiga asal Bali, menyebut jamu sebagai warisan budaya yang mencerminkan kekayaan alam Indonesia. Menurutnya, jamu bukan hanya soal manfaat fisik, tetapi juga tentang filosofi hidup selaras dengan alam.
Di banyak keluarga Indonesia, resep jamu diwariskan secara turun-temurun. Setiap keluarga biasanya memiliki racikan khas yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan bahan di daerah masing-masing. Proses pembuatan jamu pun kerap melibatkan interaksi keluarga, sehingga menciptakan ikatan emosional sekaligus menjaga kelestarian tradisi.
Menariknya, jamu kerap dianalogikan sebagai obat serba guna bagi masyarakat Indonesia. Dalam laporan detikfood, jamu bahkan disamakan dengan sup ayam bagi masyarakat Amerika, dikonsumsi ketika tubuh terasa kurang sehat atau membutuhkan pemulihan. Ochi Latjuba, pemilik bersama restoran Wayan di New York, mengungkapkan bahwa sejak kecil ia terbiasa mengonsumsi jamu seperti kunyit asam atau beras kencur saat mulai merasa tidak enak badan. Popularitas jamu meningkat pesat pada masa pandemi Covid-19. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mendorong jamu kembali diminati.
Anak muda dan pelaku usaha kreatif turut berperan dalam mengangkat citra jamu. Mereka mengemas jamu dalam bentuk minuman modern, bahkan mengolahnya menjadi koktail, tanpa menghilangkan khasiat dasarnya. Shanley Alya Suganda, pendiri merek Djamu di New York, menyatakan bahwa inovasi dilakukan agar jamu tetap berkhasiat sekaligus memiliki rasa yang lebih bersahabat bagi konsumen internasional.
Saat ini, komunitas pecinta jamu di Amerika Serikat memang masih relatif kecil, tetapi terus berkembang. Produk jamu mulai dijual di restoran, juice bar, hingga toko makanan kesehatan. Merek seperti Djamu dan Jamulogy menjadi contoh pelaku usaha yang aktif memperkenalkan jamu ke pasar global, termasuk dalam bentuk minuman dingin hasil proses cold-pressed.
Sumber: