Sekali Makan Sehari, Benarkah Diet OMAD Aman ? Ini Penjelasan Pakarnya

 Sekali Makan Sehari, Benarkah Diet OMAD Aman ? Ini Penjelasan Pakarnya

Tren diet OMAD (one meal a day) yang sedang ramai diperbincangkan soal keamanannya.-ist-

 

CURUPEKSPRESS.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, tren diet ekstrem semakin banyak diminati sebagai cara instan untuk menurunkan berat badan. Salah satu pola makan yang kerap menjadi perbincangan adalah one meal a day (OMAD), yaitu metode diet yang membatasi konsumsi makanan hanya satu kali dalam sehari. Meski terlihat praktis dan menjanjikan hasil cepat, diet ini menyimpan sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan. Guru Besar Gizi IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dan berhati-hati sebelum mengikuti tren tersebut, terutama bagi mereka yang belum terbiasa menjalani puasa.

OMAD termasuk dalam kategori puasa intermiten dengan tingkat pembatasan yang cukup ekstrim. Pola ini mengharuskan seseorang berpuasa selama sekitar 22-23 jam dan hanya memiliki satu jendela makan dalam satu hari. Menurut Prof. Anna, metode ini tidak dapat diterapkan secara universal karena kondisi kesehatan dan kebutuhan gizi setiap individu berbeda. Tanpa persiapan dan pemahaman yang memadai, OMAD justru berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Ia menegaskan bahwa diet OMAD sebaiknya tidak dijalani secara sembarangan, khususnya oleh pemula. Salah satu dampak yang dapat muncul adalah kekurangan energi dan zat gizi karena tubuh tidak memperoleh asupan yang cukup dan merata sepanjang hari. Selain itu, puasa yang terlalu panjang juga dapat memicu hipoglikemia atau penurunan kadar gula darah, terutama pada individu yang tidak terbiasa. Kondisi lambung yang dibiarkan kosong dalam waktu lama pun berisiko menimbulkan gangguan pencernaan, seperti nyeri lambung atau rasa tidak nyaman.

BACA JUGA: Whip Pink Viral karena Efek Nge-Fly, BNN Tegaskan Ancaman Seriusnya

BACA JUGA:Tips Aman Berkendara Motor Jarak Jauh agar Tetap Fokus dan Bugar

Prof. Anna menjelaskan bahwa OMAD relatif aman hanya bagi orang dewasa yang benar-benar sehat. Kriteria tersebut meliputi tidak sedang hamil atau menyusui, tidak memiliki riwayat gangguan makan, tidak menderita penyakit kronis seperti diabetes atau gangguan lambung berat, serta memiliki status gizi normal dan tidak mengalami anemia. Di luar kelompok tersebut, penerapan OMAD perlu dipertimbangkan ulang karena risikonya lebih besar daripada manfaatnya.

Sebaliknya, anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun tidak dianjurkan menjalani diet ini karena masih berada dalam masa pertumbuhan dan membutuhkan asupan gizi yang seimbang sepanjang hari. Ibu hamil dan ibu menyusui juga memerlukan energi serta zat gizi yang lebih tinggi untuk mendukung kesehatan diri dan bayinya. Sementara itu, kelompok lanjut usia berisiko mengalami penurunan massa otot, kekurangan energi, dehidrasi, dan gangguan metabolisme apabila memaksakan diri menjalani OMAD.

Meski demikian, Prof. Anna menyebutkan bahwa OMAD dapat dipertimbangkan oleh orang dewasa sehat berusia 20 tahun ke atas yang memiliki tujuan tertentu, seperti menurunkan berat badan akibat kelebihan berat badan. Dengan membatasi waktu makan, asupan energi harian cenderung menurun sehingga berat badan dapat berkurang secara bertahap. Namun, ia menekankan bahwa diet ini bukan solusi instan dan tetap harus dilakukan secara terencana.

BACA JUGA: Tak Hanya Telur Ayam, Ini Alasan Telur Puyuh Cocok untuk MPASI

BACA JUGA: Virus Nipah Kembali Terjadi, Seberapa Berbahaya bagi Manusia ?

Sebelum menerapkan OMAD, tubuh perlu melalui tahap adaptasi. Prof. Anna menyarankan agar seseorang memulai dari puasa intermiten yang lebih ringan, misalnya dengan durasi puasa 12-14 jam. Tahap ini bertujuan agar sistem pencernaan dan metabolisme tubuh dapat menyesuaikan diri secara perlahan sebelum menghadapi puasa dengan durasi yang lebih panjang.

Selain durasi puasa, kualitas makanan menjadi faktor yang sangat krusial dalam OMAD. Karena seluruh kebutuhan energi dan zat gizi harian hanya dikonsumsi dalam satu kali makan, menu yang disajikan harus padat gizi, seimbang, dan mudah dicerna. Asupan protein berkualitas tinggi, seperti ikan, telur, daging tanpa lemak, tahu, dan tempe, penting untuk mencegah penurunan massa otot. Karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, ubi, oat, atau jagung, dibutuhkan sebagai sumber energi berkelanjutan. Lemak sehat dari alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, dan ikan berlemak juga berperan dalam menjaga rasa kenyang serta keseimbangan hormon.

Sayuran berserat tinggi sebaiknya dikonsumsi minimal setengah piring, disertai buah dalam jumlah yang wajar agar asupan gula tidak berlebihan. Kecukupan cairan dan elektrolit pun harus diperhatikan melalui konsumsi air putih, sup bening, atau kaldu. Sebaliknya, makanan yang digoreng berlebihan, minuman manis, pangan ultra-proses, serta makanan terlalu pedas atau asam perlu dibatasi karena dapat memperburuk kondisi lambung.

Sumber: