Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Gen Z Lebih Memilih Ngopi Dibanding Alkohol !
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Gen Z Lebih Memilih Ngopi Dibanding Alkohol !--
CURUPEKSPRESS.COM - Dalam satu dekade terakhir, budaya minum kopi di Indonesia mengalami transformasi yang signifikan, terutama di kalangan Generasi Z. Aktivitas ngopi tidak lagi dimaknai sebatas konsumsi minuman berkafein untuk mengusir kantuk, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern. Kedai kopi kini menjelma sebagai ruang sosial yang multifungsi, mulai dari tempat berkumpul, bekerja, berdiskusi, hingga mengekspresikan identitas diri. Fenomena ini menandai perubahan cara generasi muda memaknai kebersamaan dan interaksi sosial di tengah dinamika kehidupan urban.
Menariknya, meningkatnya tren ngopi tersebut beriringan dengan temuan sejumlah survei yang menunjukkan penurunan konsumsi minuman beralkohol pada kelompok usia muda. Sebagaimana disinggung dalam berbagai laporan dan kajian yang dimuat di rri.co.id, generasi muda saat ini cenderung lebih selektif dalam memilih pola konsumsi dan aktivitas sosial. Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang relevan untuk dikaji lebih lanjut, yakni apakah budaya ngopi di kalangan Generasi Z berpotensi berkontribusi dalam mengurangi kecenderungan konsumsi alkohol.
Salah satu faktor utama yang membuat ngopi begitu diminati oleh Generasi Z adalah aspek sosial yang ditawarkannya. Kedai kopi menyediakan suasana yang santai, nyaman, dan relatif aman, serta tidak lekat dengan stigma negatif tertentu. Berbeda dengan tempat hiburan malam yang kerap diasosiasikan dengan konsumsi alkohol, coffee shop hadir sebagai ruang netral yang inklusif dan dapat diakses oleh berbagai kalangan. Hal ini memungkinkan generasi muda untuk bersosialisasi tanpa tekanan sosial maupun risiko perilaku konsumtif yang berlebihan.
Selain itu, Generasi Z dikenal sebagai kelompok yang memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan mental dan fisik. Mereka cenderung memilih aktivitas sosial yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendukung produktivitas dan keseimbangan hidup. Ngopi sambil mengerjakan tugas, berdiskusi ringan, atau membuat konten kreatif menjadi pilihan yang selaras dengan karakter tersebut. Dalam konteks ini, kopi bukan sekadar minuman, melainkan medium interaksi yang mendukung aktivitas positif dan konstruktif.
Dari sudut pandang psikologis, kopi juga dapat berperan sebagai bentuk substitusi sosial. Alkohol sering kali dikonsumsi bukan hanya karena efek farmakologisnya, tetapi juga karena fungsinya sebagai pelumas sosial yang membantu seseorang merasa lebih rileks dan mudah berinteraksi. Kopi, meskipun tidak memiliki efek sedatif seperti alkohol, memberikan stimulasi ringan melalui kandungan kafein yang dapat meningkatkan fokus dan suasana hati. Efek ini dinilai cukup untuk mendukung interaksi sosial tanpa menimbulkan risiko kecanduan berat.
Kafein diketahui dapat merangsang pelepasan dopamin dalam jumlah terbatas, sehingga memberikan rasa nyaman dan meningkatkan kewaspadaan. Berbeda dengan alkohol yang berpotensi menimbulkan ketergantungan dan dampak kesehatan jangka panjang, konsumsi kopi dalam batas wajar relatif lebih aman. Oleh karena itu, bagi Generasi Z yang cenderung menghindari risiko kesehatan, kopi menjadi alternatif yang lebih rasional dalam memenuhi kebutuhan bersosialisasi.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa tren ngopi bukanlah satu-satunya faktor yang berkontribusi terhadap menurunnya konsumsi alkohol di kalangan generasi muda. Faktor lain seperti peningkatan literasi kesehatan, perubahan nilai sosial, serta akses informasi yang lebih luas juga memainkan peran penting. Namun, budaya ngopi tetap memiliki kontribusi signifikan sebagai alternatif gaya hidup dan ruang sosial yang lebih sehat.
Dengan karakter Generasi Z yang kritis, sadar kesehatan, dan berorientasi pada komunitas, budaya ngopi berpotensi menjadi bagian dari ekosistem sosial yang mendorong perilaku konsumsi yang lebih aman dan berkelanjutan. Apabila didukung oleh edukasi publik dan kebijakan yang tepat, secangkir kopi tidak hanya menjadi simbol gaya hidup modern, tetapi juga representasi perubahan cara generasi muda menikmati kebersamaan tanpa harus bergantung pada alkohol.
Sumber: